Tersingkir Dari Piala Dunia 2026, Sepak Bola Korea Selatan Berada di Pusaran Krisis

  • 30 Jun 2026 19:42 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Eliminasi dini tim nasional Korea Selatan dari Piala Dunia 2026 telah memicu krisis besar dan berujung pada pengunduran diri pelatih kepala Hong Myung-bo. Keputusan mendadak mantan kapten legendaris tersebut diambil hanya beberapa jam setelah kepastian kegagalan tragis timnya di Meksiko.

Gelombang kemarahan publik yang luar biasa kini tengah melanda negara tersebut hingga memunculkan laporan adanya ancaman pembunuhan terhadap sang mantan pelatih. Demi menjaga keamanan, otoritas setempat bahkan harus merahasiakan lokasi kedatangan para pemain dan staf saat kembali ke tanah air.

Dilansir dari BBC Sport, perjalanan mengecewakan di Grup A dimulai dengan kemenangan menjanjikan atas Republik Ceko sebelum akhirnya mereka takluk dari Meksiko dan Afrika Selatan. Keputusan pelatih untuk membangkucadangkan kapten Son Heung-min pada laga krusial dinilai banyak pihak sebagai pemicu utama penampilan terburuk tim di abad ke-21.

Suasana internal skuad juga dilaporkan tidak harmonis setelah adanya insiden awak media domestik yang tertangkap kamera mengolok-olok catatan wajib militer Son Heung-min. Sebagai bentuk aksi protes terhadap perlakuan tersebut, seluruh pemain sempat melakukan aksi boikot terhadap segala bentuk kewajiban wawancara media.

Sang kapten yang akan segera menginjak usia 34 tahun tersebut kini dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menyudahi karier internasionalnya lebih awal. Seluruh rencana upacara penyambutan resmi di Bandara Internasional Incheon pun terpaksa dibatalkan total demi menghindari amukan massa.

Kritik tajam tidak hanya datang dari suporter, tetapi juga disampaikan langsung oleh Presiden Lee Jae-myung melalui pernyataan resminya di media sosial. Kepala negara menyatakan keheranannya yang mendalam atas hasil buruk tersebut dan menyebut kegagalan ini sebagai akibat nyata dari praktik kronisme dalam organisasi.

Presiden Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA), Chung Mong-gyu, menjadi sorotan utama karena dinilai sering mengabaikan prosedur transparan saat menunjuk pelatih baru. Meskipun sempat direkomendasikan untuk disuspensi oleh Kementerian Olahraga, ia tetap berhasil mengamankan masa jabatan keempatnya melalui jalur hukum di pengadilan.

Di tengah badai desakan yang semakin kuat, pria yang keluarganya memiliki hubungan erat dengan konglomerat Hyundai itu akhirnya menyatakan akan mundur pasca-Piala Dunia. Ia secara terbuka mengakui bahwa segala kontroversi yang terjadi selama masa kepemimpinannya bersumber dari kekurangan pribadinya sendiri dalam mengelola asosiasi.

Krisis tata kelola ini membuat posisi sepak bola Korea Selatan kini dinilai telah tertinggal jauh di belakang rival abadi mereka, Jepang. Saat klub dan talenta Jepang terus mendominasi kompetisi Asia serta menembus pasar Eropa, prestasi tim nasional Korea justru terus merosot tajam.

Banyak pihak menilai bahwa perbedaan mencolok ini terjadi karena Jepang memiliki visi terstruktur jangka panjang yang kontras dengan kekacauan di Seoul. Momen kekosongan pelatih dan presiden federasi ini diharapkan dapat menjadi titik balik krusial untuk merombak total sistem sepak bola mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....