Kisah Kuda Winduhaji, Legenda Sejarah dalam Pemandian Kuningan
- 01 Sep 2023 08:00 WIB
- Cirebon
KBRN, Kuningan: Menghadapi peringatan Hari Jadi Kuningan yang jatuh pada 1 September, tradisi unik masih tetap berlangsung dalam bentuk memandikan kuda di saluran Surakatiga atau Daerah Aliran Sungai (DAS) Lengkong, yang terletak di Blok Cikedung, Kelurahan Winduhaji, Kecamatan/Kabupaten Kuningan.
Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun ini memiliki makna mendalam bagi warga setempat. Asep, seorang warga Winduhaji berusia 45 tahun, menjelaskan saluran Surakatiga atau DAS Lengkong sudah lama menjadi lokasi pemandian kuda. Di masa lalu, daerah aliran sungai ini menjadi tempat khusus untuk memandikan kuda sembrani, yang diyakini memberikan semangat dan kesehatan bagi hewan tersebut.
“Dahulu daerah aliran sungai di sini menjadi lokasi pemandian kuda sembrani. Sehingga lokasi ini menjadi tempat umum bagi pemandian kuda pada zaman itu,” kata Asep, Kamis (31/8/2023) malam.
Dikatakan Asep, untuk memandikan kudanya di lokasi pemandian kuda ini dianggap memberikan semangat dan kesehatan bagi kuda itu sendiri.
“Kebugaran dan kesehatan kuda terlihat. Itu terbukti saat saya narik (ngojeg, red) kuda yang sebelumnya menjadi mata pencaharian saya. Kalau kudanya sehat, gampang cari uang,” katanya.
Nampak terlihat di lokasi, dua ekor kuda yang datang dibawa dua orang warga Cijoho Landeuh itu, bergegas menyiapkan kudanya untuk dimandikan. Kedua kuda masuk ke perairan di tempat pemandian itu.
“Iya kang, tadi kakinya ke depan main-main air seperti begitu. Itu merupakan bagian dari tanda kesenangan dia saat di lokasi,”ujar.
Dani yang ikut terlibat dalam memandikan kuda, mengungkapkan tradisi ini menjadi salah satu titik penting untuk menggali sejarah lingkungan sekitar.
"Untuk waktu pemandian memang terbagi ke beberapa jeda. Ada yang jelang waktu Magrib seperti ini, kemudian malam hari dan ada juga pas dini hari hingga waktu subuh,” katanya.
Dani menuturkan ketika pemandian di Cikedung ini menjadi titik dalam menggali sejarah lingkungan sekitar.
"Ceritanya dulu rombongan dari Kuningan (Rombongan Ki Gede Kemuning) yang berangkat untuk bersilaturahmi kepada Kanjeng Sinuhun Cirebon dipimpin oleh Adipati Ewangga dengan menunggangi Kuda yang bernama Kuda Winduhaji, Keturunan Kuda Semberani," tutur Dani.
Dalam perjalanannya,sambung Dani, rombongan Adipati Ewangga bertemu dengan Rombongan Ki Gede Plumbon, setelah itu Rombongan Adipati Ewangga bertemu lagi dengan Rombongan dari Raja Galuh yang dipimpin oleh Ki Demang Dipasara.
Kuda si Winduhaji tersebut terus menerus menyerang gajah itu hingga mati. (Sumber dari Babad Cirebon yang ditulis oleh KH. Mahmud Astana Japura Cirebon)
“Kuda si Winduhaji oleh buyut Windu diabadikan menjadi nama suatu Desa yang bernama Winduhaji,” katanya.
Kuda si Winduhaji, kata dia, semula diurus atau dipelihara oleh Buyut Windu dan sebagai tempat pemandian kuda tersebut, berlokasi di Cikedung yaitu bagian lekukan Saluran sungai Surakatiga.
“Daerah aliran sungai lengkong itu semula, karena yang membuat sungai tersebut sesepuh dari lengkong namanya Eyang Maolani,” ujarnya.
Tradisi ini tidak hanya mengangkat nilai budaya, tetapi juga menceritakan kisah masa lalu yang menghubungkan berbagai peristiwa sejarah di daerah ini. Melalui memandikan kuda, warga Kuningan menjaga dan memperkaya warisan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....