RSUD Indramayu Rawat Pelajar SMAN 1 Tukdana usai Diduga Menyantap Menu MBG
- 06 Okt 2026 21:25 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Indramayu - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu masih melakukan perawatan intensif terhadap pelajar SMAN 1 Tukdana yang mengalami gejala pusing dan muntah. Gejala tersebut dialami para siswa pada Senin, 5 Oktober 2026 usai mengonsumsi jatah Makan Bergizi Gratis (MBG).
Humas RSUD Indramayu, Tarmidi, mengonfirmasi hingga Selasa, 6 Oktober 2026 terdapat dua pasien yang masih dirawat intensif dan dua pasien lainnya menjalani rawat jalan. Meskipun tidak merinci identitas pasien, ia memastikan penanganan medis terhadap para korban terus berjalan.
“RSUD Indramayu masih melakukan perawatan intensif terhadap pasien akibat gejala pusing dan muntah, dua pasien masih dirawat, sedangkan dua menjalani rawat jalan,” ujar Tarmidi.
Peristiwa tersebut ditenggarai akibat keracunan massal usai siswa mengonsumsi hidangan yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala 2. Insiden yang menimpa ratusan pelajar ini langsung memicu respons cepat dari tim medis dan instansi terkait.
Korban yang mengalami gejala keluhan langsung mendapatkan penanganan medis darurat di lingkungan sekolah maupun dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat hingga ke RSUD Indramayu. Camat Tukdana, Heka Sugono, mengungkapkan ada sekitar 105 pelajar kelas 10, 11, dan 12 yang terdampak.
“Tadi siang saya dapat laporan terkait dugaan keracunan MBG di SMAN 1 Tukdana, ada sekitar 105 pelajar baik kelas 10, 11 dan 12 mengalami keracunan. Yang 18 orang dilakukan tindakan di Puskesmas Tukdana, di Puskesmas Kerticala ada puluhan yang sedang ditangani, termasuk yang dirujuk ke RSUD Indramayu 2 orang siswa,” kata Heka Sugono menjelaskan.
Baca juga: DPRD Indramayu Minta Program MBG Dievaluasi Pasca Insiden Keracunan
Berdasarkan laporan pihak medis di Puskesmas Tukdana, gejala yang dialami rata-rata berupa mual, pusing, dan muntah-muntah. Saat ini sampel makanan sedang diuji laboratorium di Labkesda Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, sementara jumlah korban masih berpotensi bertambah.
“Sekarang sampel makanan sedang diuji lab di Labkesda Dinas Kesehatan Indramayu. Soal korban masih mungkin untuk bertambah karena masih ada yang datang di Puskesmas Kerticala. Sementara dugaan akibat keracunan makanan dari kiriman SPPG 2 Kerticala,” ujarnya.
Kekhawatiran juga disampaikan pihak keluarga korban melalui tayangan video yang beredar di masyarakat. Mereka mengaku cemas dan mengimbau agar siswa membawa bekal sendiri dari rumah pascainsiden tersebut.
“Mulai besok kita ga usah makan dari MBG, kita bawa bekel sendiri aja dari rumah. Ini MBG meracuni,” ucap keluarga pelajar dalam tayangan video yang beredar ke publik.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG, Ayu, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut dan menegaskan pihaknya langsung mengambil langkah tanggap darurat. Pihak SPPG segera berkoordinasi dengan puskesmas serta petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) untuk menangani para korban.
“Benar terjadi. Dari awal pihak sekolah menghubungi SPPG bahwa ada penerima manfaat yang terdampak, pihak SPPG langsung melakukan penanganan. Adapun hal yang dilakukan adalah menghubungi pihak puskesmas terkait karena beberapa ada yang dicek di sekolah bersama Kesling (Kesehatan Lingkungan), kemudian dirawat di dua puskesmas, yaitu Puskesmas Tukdana dan Puskesmas Kerticala,” ujar Ayu.
Ayu menambahkan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan surat penghentian operasional sementara bagi SPPG Kerticala 2. Langkah investigasi terus berjalan bersama Dinas Kesehatan dengan mengamankan sampel makanan untuk diuji laboratorium.
“Makanan yang hari ini dimasak juga untuk sampelnya sudah diamankan oleh Dinkes dan akan dilakukan uji lab makanannya. Adapun dari BGN untuk SPPG sudah diterbitkan surat berhenti operasional sementara, sehingga SPPG mulai besok tidak beroperasional sampai persyaratan lainnya terpenuhi untuk operasional kembali,” katanya.
Saat ini tim Korwil dibantu Korcam terus melakukan pengecekan di lapangan serta melaporkan perkembangan situasi secara berkala ke pusat. Situasi di SMAN 1 Tukdana masih dalam pengawasan ketat, sementara masyarakat mendesak agar hasil uji laboratorium dibuka secara transparan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....