Sekolah Semua Agama, Bhinneka Tunggal Ika Hidup di SDN 17 Kuningan

  • 29 Sep 2026 18:41 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • SDN 17 Kuningan menampung lebih dari 131 siswa non-Islam dengan menyediakan layanan pendidikan dan pembelajaran agama sesuai keyakinan masing-masing.
  • Kepala sekolah Samsudin menekankan komitmen sekolah untuk memberikan hak pendidikan yang sama kepada semua siswa tanpa membedakan agama maupun asal sekolah.
  • Sekolah dasar ini menjadi contoh penerapan pendidikan inklusif dan multikultural yang menghormati keberagaman latar belakang agama siswa.

RRI.CO.ID, Kuningan — Lebih dari 131 siswa non-Islam belajar di SDN 17 Kuningan. Sekolah dasar itu membuka layanan pendidikan bagi siswa dari berbagai latar belakang agama, termasuk menyediakan pembelajaran agama sesuai keyakinan masing-masing.

Kepala SDN 17 Kuningan Samsudin mengatakan sekolah berupaya memberikan hak pendidikan yang sama kepada seluruh siswa tanpa membedakan agama maupun asal sekolah."Karena pendidikan adalah hak semua anak bangsa, berarti tidak mendiskriminasi suatu agama. Agama apa pun atau sekolah mana pun berhak menerima pendidikan. Hak semua anak bangsa harus mendapatkan pendidikan yang layak," kata Samsudin, Selasa 29 September 2026.

Menurut dia, banyaknya siswa non-Islam yang bersekolah di SDN 17 Kuningan salah satunya karena sejumlah sekolah dasar lain di Kecamatan Kuningan belum memiliki tenaga pendidik agama non-Islam."Makanya banyak ke sini. Ini menjadi primadonanya teman-teman yang non-Islam," ujarnya.

Samsudin mengatakan ketika pertama kali menangani sekolah tersebut, fasilitas untuk melayani siswa non-Islam masih terbatas. Sekolah kemudian berupaya menambah ruang pembelajaran dengan menggandeng pihak lain."Waktu awal ke sini memang ruangannya kecil, tetapi semenjak saya ke sini, saya berusaha dengan pihak yayasan dan alhamdulillah mendapatkan satu ruangan," katanya.

Saat ini, SDN 17 Kuningan memiliki tiga guru agama, terdiri atas dua guru agama Kristen dan satu guru agama Katolik. Para guru tersebut hadir dan memberikan pembelajaran setiap hari.Dua guru agama Kristen yakni Didi dan Isna Siagian, S.PAK, merupakan guru berstatus aparatur sipil negara. Sementara Pendeta Gugun Nugraha membantu pembelajaran sebagai relawan.

Samsudin mengatakan pembelajaran agama diberikan sesuai keyakinan siswa dan dikelompokkan berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Menurut dia, sekolah berupaya agar pendidikan agama dan kehidupan sosial siswa berjalan beriringan."Kami melayani sekemampuan kami di sekolah. Sama-sama maju, agamanya berjalan dan toleransinya berjalan. Kegiatan sosial sama-sama ke lapangan," ujarnya.

Pengalaman melayani siswa dari berbagai agama juga bukan hal baru bagi sekolah tersebut. Samsudin menyebut SDN 17 Kuningan sebelumnya pernah memiliki guru agama Buddha bernama Waluyo.Meski menjadi tempat belajar bagi siswa dari berbagai keyakinan, Samsudin mengakui fasilitas sekolah belum sepenuhnya memadai."Kami belum bisa melayani secara fasilitas dengan memuaskan, tetapi minimal kami berusaha menyediakan. Makanya kami minta bantuan supaya kita tidak mendiskreditkan seseorang atau agama. Kita sama, baik fasilitas maupun pelayanan kami di sekolah," katanya.

Sementara itu, Pendeta Gugun Nugraha mengatakan keberadaan guru agama Kristen di sekolah masih menghadapi persoalan keterbatasan tenaga pengajar."Tenaga pengajar guru agama Kristen saat ini masih kurang. Banyak yang lebih memilih mengambil jurusan teologi," kata Gugun.

Menurut Gugun, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan keterlibatannya sebagai relawan untuk membantu memberikan pendidikan agama Kristen di sekolah. Keberadaan tenaga pengajar tersebut membuat siswa non-Islam di SDN 17 Kuningan tetap memperoleh pembelajaran agama sesuai keyakinannya, meskipun sekolah masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....