Gapura Pecinan Diresmikan, Festival Kue Bulan Perkuat Daya Tarik Budaya Cirebon
- 28 Sep 2026 07:20 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Pemerintah Kota Cirebon meresmikan Gapura Pecinan di Jalan Winaon, Kota Cirebon, Sabtu, 26 September 2026. Peresmian tersebut dirangkaikan dengan Festival Kue Bulan 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat keberagaman dan daya tarik budaya Kota Cirebon.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan, keberadaan Gapura Pecinan menjadi salah satu identitas yang menunjukkan keberagaman suku dan budaya di Kota Cirebon. Menurutnya, kawasan Pecinan juga memiliki nilai sejarah yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan untuk menarik masyarakat berkunjung ke Kota Cirebon.
“Ini satu identitas bahwa di Kota Cirebon masih ada suku yang bergabung dan memang sudah bersama. Ke depannya saya berharap semua umat beragama dan semua suku menjadi satu di Kota Cirebon,” ujarnya.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Cirebon juga berencana terus mengembangkan kawasan yang merepresentasikan keberagaman masyarakat. Menurutnya, pengembangan berbagai kawasan budaya dapat dikolaborasikan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Cirebon.
Ia berharap kegiatan budaya seperti Festival Kue Bulan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan semakin meriah setiap tahunnya. Selain memperkenalkan budaya, kegiatan tersebut dinilai dapat mendorong pergerakan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku UMKM dan sektor lainnya.
“Dengan adanya seperti ini, otomatis pengembangan perekonomian kerakyatannya jalan. Ini juga pasti akan tersebar, teman-teman media akan menyebarkan seperti ini dan menjadi daya tarik tersendiri untuk Kota Cirebon,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Kenduri Festival Kue Bulan 2026 Budiman Tanah Djaya mengatakan, kegiatan tersebut dikemas dalam konsep kenduri agar masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berkumpul dan menikmati acara bersama. Berbagai hidangan dan produk UMKM turut disediakan untuk mendukung suasana kebersamaan dalam festival.
“Kenduri Kue Bulan itu semua datang bersama-sama untuk menikmati hidangan dan hiburan, termasuk makanan yang sudah disediakan oleh UMKM. Makanya kita adakan secara terbuka supaya semua elemen orang Cirebon bisa menikmati sama-sama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Festival Kue Bulan berkaitan dengan tradisi masyarakat Tionghoa dalam menyambut pertengahan musim gugur. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga, makan malam, dan menikmati Kue Bulan.
Menurutnya, Kue Bulan memiliki makna filosofis tentang keutuhan dan kebersamaan karena biasanya dipotong sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang berkumpul. Rasa manis pada Kue Bulan juga dimaknai sebagai harapan agar masyarakat mendapatkan kehidupan yang manis.
“Kue Bulan ini adalah satu keutuhan kebersamaan. Semua sama-sama menikmati dan isinya manis karena ingin mendapatkan kehidupan yang manis,” katanya.

Ia menilai, penyelenggaraan festival secara terbuka menjadi momentum untuk mendekatkan budaya Tionghoa dengan masyarakat Cirebon. Ia menyebut budaya Tionghoa telah memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan Cirebon dan menjadi bagian dari keberagaman budaya daerah tersebut.
Ia menyebut Festival Kue Bulan 2026 dalam skala besar merupakan pelaksanaan pertama yang digelar di Cirebon. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari pada 25-27 September 2026 tersebut didukung berbagai pihak dan menghadirkan lebih dari 50 tenant untuk meramaikan kawasan festival.

Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....