Kemarau Panjang Hantam Majalengka, Ribuan Warga Berdoa di tengah Krisis Air
- 14 Sep 2026 10:45 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Majalengka - Kemarau panjang mulai menekan ketersediaan air bersih dan sektor pertanian di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kondisi ini mendorong ribuan warga bersama Pemerintah Kabupaten Majalengka menggelar Shalat Istisqa di Lapang Alun-Alun Majalengka, Senin 14 September 2026.
Shalat memohon turunnya hujan tersebut diikuti Bupati Majalengka Eman Suherman, Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, perangkat daerah, tokoh agama, serta ribuan masyarakat. Dipimpin Imam Ustad Khoerudin dan Khotib H. Abu Mansyur, warga khusyuk mengikuti rangkaian shalat dan doa bersama. Mereka memohon turunnya hujan yang membawa manfaat dan keberkahan di tengah ancaman kekeringan.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, dampak kemarau panjang di Majalengka mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Sejumlah sumur warga mulai mengering, sementara kebutuhan air untuk lahan pertanian semakin mendesak.
"Kemarau panjang telah membawa dampak nyata di tengah-tengah kita. Sumur-sumur mulai mengering, sawah yang menjadi tumpuan nafkah masyarakat membutuhkan air, belum lagi beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan," ujar Eman.
Menurut Eman, Shalat Istisqa bukan sekadar ikhtiar spiritual untuk memohon hujan, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk bermuhasabah dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar dan memohon ampun, sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama serta menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kekeringan.
Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Majalengka KH. Anwar Sulaeman menegaskan, doa memohon hujan harus disertai ikhtiar nyata dalam menghadapi dampak kekeringan. Masyarakat, kata dia, perlu menghemat penggunaan air, menjaga lingkungan, memperbanyak amal kebaikan, serta membantu warga yang mengalami kesulitan akibat krisis air.
"Doa harus dibarengi dengan ikhtiar. Mari bersama-sama menjaga lingkungan, menghemat penggunaan air dan membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan akibat kekeringan," ujarnya.
Shalat Istisqa di tengah kemarau panjang Majalengka menjadi pengingat bahwa persoalan kekeringan tidak hanya membutuhkan ikhtiar spiritual, tetapi juga kepedulian dan langkah nyata seluruh elemen masyarakat untuk menjaga ketersediaan air dan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....