FK UGJ Bekali Calon Dokter dengan Empati dan Kemampuan Komunikasi

  • 08 Sep 2026 13:40 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (FK UGJ) tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi klinis, tetapi juga kemampuan komunikasi dan empati sosial. Hal tersebut dinilai penting agar lulusan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dekan Fakultas Kedokteran UGJ sekaligus Ketua IDI Cabang Kabupaten Cirebon, Dr. dr. H. Catur Setiya Sulistiyana, M.Med.Ed., MM., mengatakan dokter pada dasarnya lebih menikmati ketika melihat masyarakat dalam kondisi sehat. Menurutnya, profesi dokter tidak semata-mata bergantung pada kondisi masyarakat yang sedang sakit.

"Saya kira bagaimanapun juga dokter mempunyai prinsip bahwa dia lebih senang, lebih menikmati ketika melihat masyarakatnya sehat," ujarnya kepada RRI Jumat, 4 September 2026.

Catur mengatakan, kondisi kesehatan seseorang tetap dapat mengalami perubahan karena berbagai faktor, seperti daya tahan tubuh, cuaca, pola makan, hingga tingkat stres. Ia juga meyakini rezeki dokter tidak akan berhenti meskipun semakin banyak masyarakat yang berada dalam kondisi sehat.

Di sisi lain, FK UGJ terus menanamkan nilai etika dan empati kepada mahasiswa sejak tahap awal pendidikan kedokteran. Selain kompetensi, mahasiswa juga dibekali kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, kepemimpinan, serta sikap rendah hati kepada masyarakat.

"FK UGJ yang selain mengajarkan tentang kompetensi, juga kita mengajarkan tentang etika, empati, mampu berkomunikasi, mampu bekerja dalam tim, mempunyai jiwa kepemimpinan, dan juga humble kepada masyarakat," ucapnya.

Catur menilai, kemampuan komunikasi menjadi bagian penting dalam profesi dokter karena karakter pasien saat ini telah mengalami perubahan. Pasien kini dapat mencari informasi kesehatan melalui Google, media sosial, hingga ChatGPT sebelum berkonsultasi dengan dokter.

Karena itu, dokter dituntut terus meningkatkan kompetensi sekaligus kemampuan komunikasi dan pemahaman terhadap perkembangan teknologi. Menurut Catur, dokter juga perlu memahami artificial intelligence dan media sosial agar mampu beradaptasi ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Sekarang pasien itu sebelum berobat sudah baca di Google, media sosial, buka ChatGPT, jadi kadang kala seolah-olah ketika pasien berobat itu seperti nguji dokternya," katanya.

Ia menambahkan, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting yang perlu dimiliki dokter agar tidak tertinggal oleh perkembangan informasi dan teknologi. Upaya meningkatkan pengetahuan tersebut juga terus ditekankan kepada mahasiswa, termasuk ketika memasuki tahap profesi kedokteran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....