YLKI: Kepercayaan Konsumen Dibangun Melalui Pelayanan

  • 08 Sep 2026 13:29 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Perbedaan pelayanan dapat menjadi alasan konsumen memilih satu pelaku usaha dibandingkan pelaku usaha lainnya, meski barang yang ditawarkan relatif sama. YLKI menilai pengalaman konsumen selama bertransaksi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan sebuah usaha.

Sekretaris Eksekutif YLKI, Rio Priambodo, mengatakan pelaku usaha tidak hanya menjual komoditas berupa barang atau jasa, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang dibangun berdasarkan kebutuhan dan kepercayaan konsumen. Cara memberikan informasi, menangani masalah, hingga mengedukasi konsumen menjadi bagian yang dinilai dalam sebuah transaksi, ujarnya.

Rio mencontohkan pada toko obat, konsumen dapat memilih toko yang memberikan edukasi mengenai obat serta menawarkan tanggung jawab setelah pembelian. Perlakuan tersebut menjadi pengalaman yang membuat konsumen merasa lebih mendapatkan perhatian dan pada akhirnya membangun kepercayaan terhadap pelaku usaha.

"Misalkan saya kasih jual tujuh hari, kalau misalkan ada apa-apa Ibu bisa balik lagi. Nah, toko sebelahnya tidak memberikan suatu kelebihan seperti itu, maka sebenarnya wajar bagi konsumen memilih produk atau pelaku usaha yang lebih memberikan treatment lebih," ucapnya kepada RRI Senin, 7 September 2026.

Menurut Rio, konsep tersebut tidak hanya berlaku pada toko obat, tetapi juga pada sektor jasa keuangan seperti perbankan. Pilihan konsumen terhadap suatu bank turut dipengaruhi pengalaman yang diberikan pelaku usaha dalam membangun hubungan dengan nasabah.

Ia menambahkan, kepercayaan juga berkaitan dengan keberlanjutan usaha karena tidak dapat dibangun tanpa adanya keadilan bagi konsumen. Pemenuhan hak, tanggung jawab, serta perlakuan yang adil dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara konsumen dan pelaku usaha, ucapnya.

Di sisi lain, Rio menyoroti persoalan komoditas esensial yang masih menjadi salah satu hal yang banyak diadukan konsumen kepada YLKI, terutama terkait harga, keamanan, kualitas, dan kuantitas barang. Ia mencontohkan persoalan takaran minyak goreng yang tidak sesuai hingga beras oplosan yang pernah ditemukan.

"Suatu trust kepercayaan masyarakat, daya beli masyarakat itu dipengaruhi oleh budaya dari pelaku usaha juga dalam membangun trust mereka, berjualan mereka, bagaimana produk mereka itu juga budaya pelaku usaha yang juga akan mempengaruhi daya beli masyarakat," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....