Masyarakat Perkotaan di Jawa Barat Diimbau Waspadai Risiko Kekeringan

  • 02 Sep 2026 16:50 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Ancaman kekeringan dan keterbatasan air bersih selama musim kemarau tidak hanya perlu diwaspadai masyarakat di wilayah pedesaan, tetapi juga warga perkotaan yang sebagian besar mengandalkan layanan air bersih dari perusahaan daerah atau PDAM. BPBD Provinsi Jawa Barat mengimbau seluruh masyarakat untuk menggunakan air secara lebih bijak karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang dan dapat memengaruhi ketersediaan air baku.

Imbauan tersebut disampaikan Pranata Humas Ahli Muda BPBD Provinsi Jawa Barat, Andri Setiawan, dalam Dialog Kentongan yang disiarkan Pro 1 RRI Cirebon pada Selasa, 1 September 2026. Menurutnya, masyarakat perkotaan tidak dapat sepenuhnya merasa aman dari dampak kekeringan karena layanan penyediaan air bersih juga bergantung pada ketersediaan sumber air baku.

“Betul. Kalau masalahnya kan mungkin di sini PDAM juga memerlukan distribusi air bakunya,” ujar Andri.

Ia mengatakan persoalan kekeringan perlu menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat, baik yang tinggal di wilayah pedesaan maupun perkotaan, terutama karena kondisi musim kemarau saat ini masih diperkirakan berlangsung dalam waktu cukup lama. Ketergantungan masyarakat kota terhadap sistem distribusi air membuat ketersediaan sumber air baku menjadi faktor penting yang harus dijaga bersama.

“Saya rasa kalau untuk masyarakat tidak hanya pedesaan, masyarakat perkotaan pun sebaiknya diwaspadai karena kekeringan ini masih diperkirakan cukup panjang,” kata Andri.

Baca juga: BPBD Jabar Catat 198 Kecamatan dan 474 Desa Terdampak Kekurangan Air Bersih

Menurutnya, langkah paling mendasar yang dapat dilakukan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan air adalah meningkatkan kebiasaan menggunakan air secara hemat dan sesuai kebutuhan sehari-hari. Upaya tersebut perlu diterapkan oleh seluruh warga tanpa membedakan tempat tinggal karena dampak kekeringan dapat berkembang ketika ketersediaan air terus mengalami penurunan.

Andri mengatakan masyarakat kota dan desa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga penggunaan air, khususnya pada masa kemarau ketika sejumlah wilayah mulai mengalami keterbatasan pasokan air bersih. “Artinya masyarakat harus lebih bijak, baik masyarakat kota maupun masyarakat di pedesaan, lebih bijak menggunakan air,” ucapnya.

Kewaspadaan masyarakat perkotaan juga diperlukan karena kondisi cuaca dan curah hujan di Jawa Barat berbeda-beda, sehingga ketersediaan air di setiap wilayah dapat mengalami perubahan selama musim kemarau. Di sejumlah daerah, penurunan debit sungai dan terbatasnya sumber air dapat memengaruhi pasokan air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

BPBD Provinsi Jawa Barat mencatat kekurangan air bersih telah terjadi di sejumlah wilayah pada berbagai kabupaten dan kota sehingga penanganan melalui pendistribusian air terus dilakukan oleh BPBD daerah. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kekeringan bukan hanya persoalan wilayah yang tandus atau pedesaan, melainkan risiko yang perlu diantisipasi seluruh masyarakat.

Masyarakat diharapkan mulai menerapkan penggunaan air secara efisien dan tidak melakukan pemborosan untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau berlangsung. Kesiapsiagaan bersama antara pemerintah dan masyarakat dinilai penting untuk mencegah dampak kekeringan semakin meluas serta memastikan kebutuhan dasar air bersih tetap dapat dipenuhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....