Lembaga Pelatihan Kerja Cirebon Petakan Kompetensi Sesuai Kebutuhan Industri

  • 11 Agt 2026 12:19 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Kebutuhan dunia usaha dan industri menjadi dasar dalam pemetaan kompetensi tenaga kerja di Kota Cirebon. Pemetaan tersebut diperlukan agar program pelatihan yang diberikan kepada masyarakat sesuai dengan peluang kerja maupun kebutuhan tenaga kerja yang tersedia.

Praktisi LPK P2BBN Kota Cirebon, Nono Sasongko, mengatakan pemetaan kompetensi perlu diawali dengan melihat kebutuhan industri. Kebutuhan tersebut selanjutnya diselaraskan dengan program pelatihan yang disusun oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon.

Nono menyebut terdapat 51 Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Kota Cirebon yang memiliki berbagai bidang keahlian. Dari jumlah tersebut, terdapat enam rumpun keahlian yang meliputi industri kreatif, bisnis dan manajemen, teknologi informasi, domestik, teknik pengelasan, serta pariwisata.

"Pertama memang kita harus melihat dari kebutuhan industri dulu, kebutuhan industrinya apa, yang nanti diselaraskan dengan apa yang menjadi program dari Dinas Tenaga Kerja," ujar Nono dalam program Dialog Cirebon Menyapa edisi Senin, 10 Agustus 2026.

Menurut Nono, berbagai rumpun keahlian tersebut perlu dikembangkan sehingga program pelatihan tidak hanya berfokus pada satu jenis keterampilan. Hal ini dinilai dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk memperoleh kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia juga menilai sinergi antara Dinas Tenaga Kerja, institusi pendidikan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta pelaku industri diperlukan untuk memperkuat konsep link and match. Sinergi tersebut penting agar kompetensi yang diberikan dalam pelatihan benar-benar memiliki keterkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja di lapangan.

Nono mengingatkan, peserta pelatihan perlu mendapatkan keterampilan yang memiliki peluang kerja agar tidak berakhir menjadi pencari kerja tanpa kesempatan penempatan. Karena itu, kebutuhan industri harus menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum menentukan jenis pelatihan yang diberikan.

Selain diarahkan untuk bekerja di perusahaan atau industri, peserta pelatihan juga dapat memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk membuka usaha secara mandiri. Kemampuan tersebut diharapkan dapat mendorong peserta menjadi wirausaha sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru.

"Di sini juga ada yang namanya entrepreneur, artinya bisa melakukan usaha mandiri atau wirausaha dengan hasil pelatihan-pelatihan tersebut, sehingga nanti bisa mereka menciptakan lapangan kerja sendiri," ucapnya.

Nono menjelaskan, pelatihan yang dilaksanakan secara komprehensif dapat berlangsung sekitar satu bulan dengan pembelajaran hingga delapan jam setiap hari secara kontinu. Proses tersebut diharapkan dapat membekali peserta dengan kemampuan yang cukup untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Ia berharap pemetaan kompetensi yang didasarkan pada kebutuhan industri dapat membuat program pelatihan semakin tepat sasaran. Dengan demikian, hasil pelatihan tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga dapat membuka peluang kerja dan membantu mengurangi pengangguran di Kota Cirebon.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....