Mandi Petasan: Atraksi Ekstrem Santri Ciwaringin!

  • 07 Agt 2026 06:30 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Sepak bola adalah olahraga beregu yang dimainkan oleh dua tim beranggotakan masing-masing 11 pemain di lapangan rumput. Tujuan utama permainan ini adalah memasukkan bola ke gawang lawan sebanyak-banyaknya serta mencegah tim lawan mencetak gol.

Olahraga ini menjadi olahraga paling populer di dunia karena aturan dasarnya yang mudah dipahami serta dapat dimainkan oleh berbagai kalangan. Di saat pertandingan sepak bola umum menyuguhkan bola kulit bergulir di atas rumput hijau, pemandangan berbeda justru hadir di kawasan Pondok Pesantren Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Sepak bola api adalah tradisi permainan sepak bola khas pesantren di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa (seperti Cirebon, Kudus, Pekalongan, dan Banten), di mana para pemain menendang bola yang terbakar api dengan kaki telanjang. Tradisi ini umumnya digelari menjelang bulan suci Ramadan, malam 1 Suro (1 Muharram), atau peringatan Hari Santri Nasional.

Sementara itu, di kawasan Pondok Pesantren Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon sediri, tradisi permainan bola api ini acapkali rutin digelar para santri dalam rangka perayaan Akhirussanah maupun momen menyambut bulan suci Ramadan. Lapangan sederhana di lingkungan pesantren mendadak berubah menjadi arena atraksi memukau yang menyedot perhatian ribuan warga sekitar.

Para santri berlarian tanpa alas kaki mengejar dan menendang bola yang diselimuti kobaran api membara. Bukan sebatas pertunjukan adu nyali, permainan yang memanfaatkan sabut kelapa yang direndam bahan bakar ini memiliki filosofi spiritual yang sangat mendalam.

Permainan ini menjadi simbol latihan fisik dan batin para santri dalam memadamkan serta mengendalikan hawa nafsu. Untuk bisa memainkan bola api hingga atraksi mandi petasan tanpa terluka, para santri harus bersiap jauh-jauh hari melalui serangkaian tirakat dan ritual spiritual yang berat.

Sebelum hari puncaknya, para santri diwajibkan mengamalkan wirid khusus setiap malam di maqbaroh (makam para ulama/pendiri pesantren) untuk mengolah ketenangan batin. Selain itu, mereka juga menjalani tirakat fisik dan mental melalui puasa bilannaar yakni berpantang dari segala makanan yang dimasak menggunakan olahan api.

Pada puncak tirakatnya, para santri kemudian menjalankan ritual mati geni sebagai bentuk penyempurnaan batin sebelum hari pelaksanaan. Keikhlasan batin, kepatuhan pada petunjuk kiai, dan benteng doa inilah yang membuat para santri tetap tenang meski harus berhadapan langsung dengan kobaran api dan ledakan petasan.

Bahkan lebih dari itu selain dimensi spiritual, sepak bola api ini juga, menjadi hiburan rakyat yang mempererat kebersamaan antar-santri dan masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut tentu bisa menjadi ruang maupun jembatan perjumpaan yang harmonis antara dunia pesantren dan masyarakat sekitar pesantren.

Ketika pertandingan berlangsung, akan tampak batas antara area dalam pesantren dan lingkungan luar seakan melebur menjadi satu arena kebersamaan. di sadari atau tidak bahwa tradisi sepak bola api membentuk pendekatan budaya dan olahraga, yang mampu menjadi media komunikasi publik secara efektif dalam upaya membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, tradisi unik bola api dan mandi petasan ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang untuk merawat ketangkasan, melatih keberanian mental, serta mempererat kebersamaan masyarakat Cirebon melalui warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Khususnya yang dilakukan oleh para santri dari Pondok Pesantren Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon

(Sumber: AyuWulandari_StidAlBiruni)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....