Kekeringan Landa Ligung Majalengka Petani Cemas Hadapi Musim Tanam Kedua

  • 31 Jul 2026 14:30 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka – Di tengah retakan tanah yang kian mengering dan sawah yang mulai kehilangan harapan, ancaman gagal panen membayangi musim tanam kedua (MT2) di Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Krisis air yang melanda sejumlah wilayah pertanian tak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga kegelisahan kolektif para petani yang menggantungkan hidup dari lahan mereka.

Situasi genting ini mendorong Bupati Majalengka, Eman Suherman, turun langsung ke lokasi terdampak. Langkah cepat itu diambil setelah gelombang laporan masyarakat membanjiri ruang publik, mulai dari selebaran hingga media sosial.

"Dua hari yang lalu saya mendapatkan selebaran, bahkan saya melihat di media sosial adanya kekeringan yang terjadi di wilayah Kecamatan Ligung," ujar Eman, Jumat, 31 Juli 2026.

Sebelumnya, pemerintah daerah telah lebih dulu mengatasi persoalan serupa di Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Langkah ini dilakukan melalui intervensi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dengan menyodet air dari Bendungan Rentang.

Namun, kondisi di Ligung menunjukkan realitas berbeda, lebih kompleks dan mendesak. Derasnya laporan yang masuk membuat Eman tak menunggu waktu lama.

Bahkan pada malam hari, ia langsung menghubungi pihak BBWS untuk meminta penanganan segera. "Karena begitu masifnya informasi yang masuk, malam-malam saya menghubungi kepala BBWS untuk menindaklanjuti semua kegelisahan masyarakat di wilayah Ligung," katanya.

Hasil peninjauan lapangan mengonfirmasi kekhawatiran warga. Kekeringan nyata terjadi dan berpotensi melumpuhkan produktivitas pertanian. "Masyarakat hari ini sangat khawatir. Mereka harap-harap cemas karena takut pada musim tanam kedua ini tidak bisa panen akibat kekeringan," ucapnya.

Sebagai langkah darurat, BBWS bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan panel surya. Teknologi ini akan dimanfaatkan untuk mengoperasikan sistem pengambilan air, menggantikan pompa berbahan bakar minyak yang selama ini membebani biaya produksi petani.

"Alhamdulillah, beliau sudah mengambil langkah cepat dengan memberikan bantuan panel surya untuk dipakai oleh petani sehingga tidak lagi menggunakan pompa berbahan bakar minyak," ujar Eman.

Intervensi ini diharapkan mampu menjadi penopang sementara, menjaga harapan panen tetap hidup di tengah krisis air. "Mudah-mudahan mereka tetap bisa panen pada musim tanam kedua ini," katanya.

Tak berhenti pada solusi jangka pendek, pemerintah daerah bersama BBWS juga menyiapkan strategi jangka panjang. Salah satu usulan yang mengemuka dari warga Desa Leuweunghapit dan Bantarwaru adalah pembangunan sodetan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.

Potensi sumber air sebenarnya tersedia di Saluran Cikamangi. Namun, perbedaan elevasi menjadi tantangan utama karena posisi saluran lebih rendah dibandingkan area persawahan.

"Ternyata di sini ada air yang melintas di Saluran Cikamangi. Namun, posisinya lebih rendah dibandingkan sawah, sehingga perlu ada langkah khusus agar air bisa dialirkan ke lahan pertanian," ujar Eman.

Untuk itu, percepatan pembangunan sodetan menjadi fokus kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, kecamatan, desa, hingga masyarakat akan dilibatkan dalam proses pengerjaan. "Prinsipnya, yang penting air bisa mengalir. Kami siap berkolaborasi dengan semua pihak agar persoalan ini segera teratasi," ucapnya menutup.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....