El Nino Diprediksi Perpanjang Musim Kemarau di Cirebon hingga September 2026

  • 29 Jul 2026 14:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – BMKG Kertajati Majalengka memprediksi fenomena El Nino akan memperpanjang musim kemarau di wilayah Cirebon dan sekitarnya sehingga kondisi kering diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun normal. Informasi tersebut disampaikan dalam Dialog Cirebon Menyapa RRI Cirebon pada Selasa, 21 Juli 2026 bertema Cuaca Panas di Wilayah Cirebon: Fenomena Musim Kemarau atau Dampak Perubahan Iklim? sebagai bentuk peringatan dini kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau.

Ketua Tim Prakiraan, Data dan Informasi BMKG Kertajati Majalengka, Dyan Anggrainy, S.ST., mengatakan secara klimatologis puncak musim kemarau biasanya terjadi pada Agustus sebelum berangsur memasuki musim hujan pada awal tahun berikutnya. Namun, tahun ini fenomena El Nino diperkirakan menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang sehingga puncaknya bergeser hingga Agustus–September.

"Kalau kemarau biasanya puncaknya terjadi pada bulan Agustus. Namun karena ada fenomena El Nino di tahun ini, kita prediksi akan mundur sedikit atau kemaraunya akan lebih panjang dibandingkan normalnya, sehingga puncaknya diperkirakan pada Agustus hingga September," ujar Dyan.

Ia menjelaskan El Nino membuat kondisi musim kemarau terasa lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya yang dipengaruhi fenomena La Nina. Pada 2024 dan 2025, curah hujan masih relatif tinggi sehingga masyarakat masih merasakan hujan meskipun berada pada periode musim kemarau.

"Tahun ini kita diuji dengan El Nino kategori moderat hingga tinggi, sehingga musim kemarau akan terasa lebih kering dibandingkan kondisi sebelumnya," kata Dyan.

Menurut Dyan, kondisi cuaca yang semakin kering perlu menjadi perhatian masyarakat karena dapat meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga potensi kebakaran lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini. Oleh karena itu, masyarakat diminta mulai melakukan penghematan penggunaan air serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Ia menambahkan dampak El Nino terhadap penerbangan di wilayah Ciayumajakuning relatif tidak sebesar daerah yang memiliki lahan gambut, seperti Sumatera dan Kalimantan. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau tidak melakukan pembakaran lahan karena cuaca kering dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api.

"Mengingat di bulan kemarau ini kondisinya kering, suhunya tinggi, kemudian anginnya kencang, jadi harap berhati-hati melakukan pembakaran karena sekali menyulut api akan mudah menyebar," ucap Dyan.

BMKG mengajak masyarakat terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca dan musim melalui aplikasi Info BMKG agar dapat mengantisipasi dampak El Nino secara lebih dini. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko yang ditimbulkan selama musim kemarau berlangsung di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....