Pedagogi Adil Gender Perlu Diterapkan sejak Dini di Lingkungan Sekolah

  • 29 Jul 2026 17:27 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Penerapan pembelajaran yang berkeadilan gender di sekolah maupun madrasah dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masih adanya pembagian peran antara siswa laki-laki dan perempuan berdasarkan stereotip yang berkembang di lingkungan belajar.

Ketua Prodi PAI Pascasarjana Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Dr. Fitri Meliyani, M.Pd., mengatakan praktik tersebut masih kerap ditemui saat proses pembelajaran di kelas. Menurutnya, pembagian tugas berdasarkan jenis kelamin perlu diubah agar seluruh peserta didik memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan kemampuan.

"Masih banyak kecenderungan guru di kelas memetakan potensi itu bias gender. Padahal keduanya bisa saling mengisi dan bisa saling di-rolling dalam keseharian di kelas," ujar Fitri kepada RRI Senin, 27 Juli 2026.

Ia menilai penerapan pedagogi adil gender penting untuk meminimalkan munculnya toxic masculinity di lingkungan sekolah. Selain itu, sistem kepemimpinan di kelas juga perlu dilakukan secara bergiliran agar siswa laki-laki maupun perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk memimpin.

Menurut Dr. Fitri, guru memiliki peran sebagai teladan utama dalam membangun pemahaman peserta didik mengenai peran laki-laki dan perempuan. Namun, pendidikan tersebut tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah karena keluarga tetap menjadi lingkungan pendidikan pertama bagi anak.

Ia menjelaskan, pada usia dini anak perlu didampingi kedua orang tua untuk mengenali identitas gender serta memperoleh teladan mengenai sikap, cara berbicara, dan perilaku sesuai tahap perkembangannya. Ketika memasuki usia sekolah, guru kemudian berperan memperkuat pemahaman tersebut melalui lingkungan belajar yang bebas dari perlakuan diskriminatif.

"Guru harus meminimalisir analogi-analogi bias gender, candaan yang merendahkan anak perempuan maupun anak laki-laki. Perempuan boleh memimpin kelas secara bergiliran dan anak laki-laki juga perlu diberi ruang untuk mengungkapkan emosinya," katanya.

Ia menambahkan, pembelajaran juga dapat dilakukan melalui metode storytelling dengan mengangkat kisah tokoh-tokoh dalam Al-Qur'an, seperti Nabi Muhammad, Nabi Musa, Maryam, maupun Ratu Bilqis. Menurutnya, penyampaian kisah tersebut dapat membantu peserta didik memahami bahwa Islam menghargai peran laki-laki dan perempuan secara proporsional tanpa menempatkan salah satunya lebih rendah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....