Perspektif Islam Tekankan Pemahaman Tepat tentang Konsep Gender

  • 29 Jul 2026 13:13 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Pemahaman mengenai perbedaan antara sex dan gender dinilai menjadi langkah awal yang penting untuk menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat. Melalui perspektif pendidikan Islam, konsep gender dipandang perlu dipahami secara proporsional agar tidak menimbulkan bias dalam kehidupan sosial maupun dunia pendidikan.

Ketua Prodi PAI Pascasarjana Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Dr. Fitri Meliyani, M.Pd. menjelaskan bahwa sex merupakan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, sedangkan gender berkaitan dengan peran, fungsi, dan perilaku yang dibentuk oleh konstruksi sosial di masyarakat. Menurutnya, kedua istilah tersebut kerap disamakan sehingga memunculkan berbagai kesalahpahaman.

"Saya akan menggunakan perspektif dari pendidikan Islam, karena gender ini multiperspektif ya dan sangat sensitif, Mbak. Maka saya izin membahas atau mengkaji gender ini dalam perspektif Islam," ujarnya kepada RRI Senin, 27 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam laki-laki dan perempuan diciptakan secara berpasangan untuk saling melengkapi dengan keistimewaan yang dimiliki masing-masing. Pendidikan pun memiliki peran untuk mengoptimalkan potensi setiap individu sekaligus menjaga fungsi seksualitas agar tetap sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat.

Menurutnya, ketimpangan gender yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh konstruksi sosial daripada ajaran Islam itu sendiri. Budaya patriarki, kata dia, masih melahirkan anggapan bahwa laki-laki maupun perempuan hanya layak menempati peran-peran tertentu dalam kehidupan.

Untuk memperkuat pandangan tersebut, ia mencontohkan sejumlah tokoh perempuan yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam maupun Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki kapasitas untuk memimpin dan berkontribusi di berbagai bidang.

"Dalam Al-Qur'an itu sendiri ada Ratu Bilqis yang memimpin sebuah kerajaan besar. Di Indonesia ada Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia yang memimpin pasukan serta memiliki strategi perang yang luar biasa, jadi sebenarnya bias gender itu tergantung lingkungan," katanya.

Ia berharap pemahaman mengenai gender dapat dibangun secara lebih proporsional sehingga masyarakat tidak lagi terjebak pada stereotip berdasarkan jenis kelamin. Dengan demikian, pendidikan diharapkan mampu memberikan ruang yang sama bagi setiap individu untuk mengembangkan potensi sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....