Masyarakat Diajak Menciptakan Ruang Aman Anak melalui Pembatasan Gawai

  • 25 Jul 2026 09:12 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon mengajak seluruh orang tua menciptakan ruang aman bagi anak dengan membatasi penggunaan gawai di lingkungan keluarga. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang mengusung semangat perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Kepala DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, Dra. Indra Fitriani, M.M., mengatakan kasih sayang kepada anak tidak cukup hanya diungkapkan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dengan memenuhi hak-hak dasar anak. "Kasih sayang kepada anak tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam perlindungan dan pemenuhan hak dasar anak," ujarnya dalam Dialog Cirebon Menyapa RRI Cirebon, Kamis, 23 Juli 2026.

Ia menjelaskan, terdapat empat hak dasar yang harus dipenuhi, yakni hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, serta hak partisipasi untuk didengar pendapatnya. Menurutnya, apabila keempat hak tersebut terpenuhi, barulah anak benar-benar mendapatkan kasih sayang yang utuh.

Ia mengungkapkan, tantangan terbesar perlindungan anak saat ini berasal dari penggunaan gawai yang tidak diawasi orang tua. "Kadang orang tua tidak menyadari bahwa dengan diberikannya HP, misalnya, itu dia sudah merasa baik-baik saja. Padahal kadang dari HP itulah kekerasan itu dapat muncul," katanya.

Sebagai langkah pencegahan, DPPKBP3A menjalankan berbagai program edukasi digital parenting, termasuk Gerakan Satu Jam Tanpa Gawai. Pihaknya mengajak seluruh anggota keluarga berhenti menggunakan perangkat digital selama satu jam setiap hari, terutama setelah waktu magrib.

"Kita melakukan gerakan satu jam tanpa gawai, mengajak keluarga-keluarga untuk menyisihkan minimal satu jam sehari, biasanya setelah magrib, tanpa pegang gawai sama sekali. Tujuannya supaya mendorong komunikasi tatap muka, membangun keterikatan emosional, dan melatih disiplin anak lepas dari layar HP," ujarnya.

Selain itu, DPPKBP3A menyediakan layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang menghadirkan fasilitas konseling gratis bagi para orang tua. Layanan ini difokuskan untuk membantu orang tua yang menghadapi anak dengan indikasi kecanduan gadget maupun gangguan perilaku akibat screen time berlebihan.

Sementara itu, Psikolog Anak Srini Piyanti, S.Psi., menilai kehadiran orang tua secara utuh menjadi kebutuhan utama bagi perkembangan psikologis anak. "Yang pertama kita para orang tua, orang dewasa hadir sepenuh hati. Itu konsep dasarnya hadir sepenuh hati. Anak-anak merasa ditemani, baik secara rasa maupun secara fisik," ujarnya.

Menurutnya, penggunaan gadget secara berlebihan dapat memengaruhi kondisi emosional anak. "Yang pertama yang paling sering kasus terjadi itu ke arah emosional, karena anak tidak bisa menunggu, anak kemudian ingin sesegera mungkin. Dorongan impulsif ini akan memperparah keadaan," katanya.

Ia menambahkan, orang tua perlu menyediakan aktivitas alternatif ketika anak tidak menggunakan gawai agar program pembatasan gadget berjalan efektif. "Di satu jam itu bagaimana orang tua hadir secara penuh,” katanya.

“Jangan sampai ketika anak tidak boleh memegang gawai, tidak ada alternatif yang harus mereka lakukan. Ini menjadi PR bagi para orang tua," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....