Hari Anak Nasional, Psikolog Cirebon Ingatkan Pentingnya Rasa Aman Bagi Anak
- 24 Jul 2026 19:36 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 yang diperingati pada Kamis, 23 Juli 2026, menjadi momentum bagi orang tua dan seluruh orang dewasa untuk mengevaluasi sejauh mana pemenuhan hak, perlindungan, serta rasa aman telah diberikan kepada anak. Psikolog Anak Cirebon, Srini Piyanti, S.Psi., Psikolog, dalam Dialog Cirebon Menyapa RRI Cirebon bertema Lindungi Hak, Ciptakan Ruang Aman Wujud Kasih Sayang untuk Masa Depan Anak, menilai pemenuhan kebutuhan emosional anak merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat secara mental.
Menurut Srini, peringatan Hari Anak tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi bahan refleksi bagi para orang tua dalam mempersiapkan anak sebagai generasi penerus bangsa. Ia mengatakan bahwa perlindungan dan rasa aman harus diberikan secara menyeluruh agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan layak.
"Hari Anak adalah bahan evaluasi buat kita para orang tua dan orang dewasa, sejauh mana kita memberikan yang terbaik buat anak-anak secara kebutuhan rasa amannya, secara perlindungan, dan bagaimana mereka tumbuh berkembang menjadi generasi penerus," ujar Srini.
Ia menjelaskan, langkah paling mendasar dalam memenuhi hak anak secara psikologis adalah menghadirkan orang tua secara utuh di dalam kehidupan anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Menurutnya, banyak orang tua lebih berfokus pada pencapaian akademik sehingga mengabaikan kebutuhan anak untuk didengar dan divalidasi perasaannya.
"Hadir sepenuh hati itu konsep dasarnya. Yang paling sulit adalah hadir secara rasa, karena sering kali kita terlalu fokus pada akademik, padahal memvalidasi rasa adalah benteng utama agar anak bergerak secara positif," kata Srini.
Lebih lanjut, ia menilai orang tua perlu membiasakan diri menjadikan anak sebagai sosok yang istimewa dalam kehidupan sehari-hari melalui perhatian sederhana, seperti menanyakan apa yang dirasakan anak sebelum membahas prestasi atau aktivitas lainnya. Cara tersebut dinilai mampu membuat anak merasa diterima apa adanya dan lebih terbuka dalam menyampaikan emosi.
"Anak harus merasa diterima apa adanya, bahwa ia boleh sedih dan boleh marah. Setelah itu tugas orang tua adalah mengawal bagaimana mereka mengekspresikan perasaan itu agar tidak mengganggu perkembangan dirinya maupun lingkungannya," ucap Srini.
Ia berharap momentum Hari Anak Nasional dapat mendorong semakin banyak keluarga membangun hubungan yang hangat dan penuh empati sehingga hak-hak anak tidak hanya dipenuhi secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Menurutnya, kehadiran orang dewasa yang mampu memberikan rasa aman akan menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....