Stop Sebut Anak Nakal, Pahami Perilakunya
- 22 Jul 2026 14:41 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Tahukah anda ? Sering kali anak yang sangat aktif di sekolah justru dilabeli "nakal". Padahal, menurut psikologi, perilaku itu hanyalah fase perkembangan dan bukan berarti anak itu bermasalah. Adalah Lailatul azizah, S.Psi, seorang guru PAUD lulusan psikologi sekaligus ibu rumah tangga dengan lima anak berkarakter berbeda, membagikan pandangannya mengenai dinamika tumbuh kembang anak.
“ Kesalahpahaman kerap terjadi karena orang dewasa langsung menghakimi anak yang aktif tanpa memahami akarnya. Orang sering melabeli anak aktif itu nakal, padahal mereka sebenarnya hanya memiliki energi berlebih/ Hiperaktif . Intinya, anak yang aktif harus disalurkan terlebih dahulu energinya agar bisa tenang, alih-alih langsung dimarahi atau dicap negatif” Ujar Lela Kepada RRI di Kediaman PAUD MQHS 17 Juni 2026 jumat pagi.
Lebih lanjut Lela menjelaskan bahwa dampak dari pemberian label buruk ini ternyata tidak main-main. Jika anak terus-menerus diberi label negatif, mereka bisa menjadi stres, minder, hingga mengucilkan diri dari lingkungan sosial.
Anak bahkan berisiko menganggap kata "nakal" tersebut sebagai identitas diri mereka dan justru melakukannya secara sengaja. Ia menegaskan bahwa anak-anak kecil belum sepenuhnya paham arti kata nakal, dan apa yang mereka tunjukkan sering kali merupakan hasil meniru pergaulan atau lingkungan sekitar.
“Sebagai seorang ibu rumah tangga yang mendidik lima anak di rumah, Lela mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah bersikap legowo dan sabar dalam mengenali karakter unik masing-masing buah hati," ujarnya.
Menanggapi faktor eksternal yang memengaruhi perilaku anak, para ahli gizi turut memperkuat pandangan bahwa asupan makanan memegang peranan penting. Makanan tinggi gula seperti cokelat atau permen terbukti dapat memberikan lonjakan energi instan yang membuat anak menjadi sulit fokus.
Oleh karena itu, ada sejumlah cara bijak yang bisa diterapkan orang tua untuk mengarahkan anak alih-alih memarahinya:
1. Perhatikan Asupan Makanan: Kurangi makanan atau minuman manis guna mencegah lonjakan energi berlebih yang dapat merusak kestabilan fokus anak.
2. Ajak Beraktivitas Fisik: Salurkan energi berlebih anak melalui kegiatan positif seperti olahraga, menari, atau permainan ketangkasan untuk melatih motorik mereka.
3. Berikan Tugas Sederhana: Beri instruksi pendek dan jelas secara bertahap agar anak lebih mudah berkonsentrasi.
4. Berikan Masukan Positif Sebelum Tidur: Manfaatkan waktu tenang menjelang tidur untuk memberikan sugesti atau nasihat lembut guna menanamkan nilai kebaikan.
5. Jangan Buru-buru Melabeli: Hindari cap negatif agar mental anak tidak terganggu.
Jika keaktifan anak dirasa sudah sangat ekstrem hingga mengarah pada kondisi yang membutuhkan penanganan khusus atau mengganggu lingkungan sekitar, orang tua disarankan untuk tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater anak agar mendapatkan panduan pendampingan yang tepat. Sementara itu Lela yang merupakan guru PAUD lulusan psikologi sekaligus ibu rumah tangga dengan lima anak ini, juga mengatakan pesan untuk para orang tua yang memiliki anak aktif.
"Saya mohon, jangan cepat memberikan label 'nakal' pada anak, karena itu bisa menghambat perkembangan dan pertumbuhan anak. Menjadi orang tua adalah sebuah proses belajar yang panjang; kuncinya adalah senantiasa bersabar, berlapang dada, dan terus memahami kebutuhan unik dari setiap anak.”
(Sumber : Rahma Auliya_STID Al Biruni)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....