BBWS Cimancis Gelar Rakor Antisipasi Musim Kemarau
- 02 Jul 2026 18:36 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung menggelar rapat koordinasi antisipasi potensi kekeringan akibat musim kemarau 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Rapat Kantor BBWS Cimancis Kota Cirebon pada Kamis, 2 Juli 2026.
Rapat tersebut melibatkan berbagai instansi dari delapan kabupaten serta kota di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Pihak yang hadir mulai dari BPBD, Dinas Pertanian, Dinas PUPR, hingga pihak Perumda Air Minum.
Kabid Operasi BBWS Cimanuk Cisanggarung, Martius, mengatakan rakor digelar setelah adanya pemaparan dari pihak BMKG. Lembaga tersebut memprediksi tingkat kekeringan pada tahun ini jauh lebih tinggi dari perkiraan awal.
Rapat tersebut melibatkan berbagai instansi dari delapan kabupaten serta kota di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Pihak yang hadir mulai dari BPBD, Dinas Pertanian, Dinas PUPR, hingga pihak Perumda Air Minum.
Kabid Operasi BBWS Cimanuk Cisanggarung, Martius, mengatakan rakor digelar setelah adanya pemaparan dari pihak BMKG. Lembaga tersebut memprediksi tingkat kekeringan pada tahun ini jauh lebih tinggi dari perkiraan awal.
"BMKG menyampaikan bahwa kondisi kekeringan di wilayah kerja kami meningkat dibandingkan prediksi pada Februari lalu. Curah hujan juga diperkirakan jauh di bawah normal, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi sejak dini," ujar Martius.
Menurutnya, BBWS Cimanuk Cisanggarung telah menyiapkan seluruh sumber daya yang dimiliki, baik personel maupun peralatan operasional. Kesiapsiagaan tersebut melibatkan Unit Pengelola Bendungan, petugas operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, hingga tim teknis di lapangan.
Martius menjelaskan, koordinasi dengan pemerintah daerah akan terus diperkuat pihak BBWS Cimanuk Cisanggarung. Langkah ini agar laporan potensi kekeringan irigasi dan air bersih masyarakat dapat diterima lebih cepat.
Ia mengimbau masyarakat untuk menyampaikan laporan secara berjenjang melalui pemerintah desa hingga pihak kecamatan. Laporan tersebut kemudian diteruskan ke dinas terkait agar dapat segera ditindaklanjuti oleh BBWS.
Menurutnya, BBWS Cimanuk Cisanggarung telah menyiapkan seluruh sumber daya yang dimiliki, baik personel maupun peralatan operasional. Kesiapsiagaan tersebut melibatkan Unit Pengelola Bendungan, petugas operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, hingga tim teknis di lapangan.
Martius menjelaskan, koordinasi dengan pemerintah daerah akan terus diperkuat pihak BBWS Cimanuk Cisanggarung. Langkah ini agar laporan potensi kekeringan irigasi dan air bersih masyarakat dapat diterima lebih cepat.
Ia mengimbau masyarakat untuk menyampaikan laporan secara berjenjang melalui pemerintah desa hingga pihak kecamatan. Laporan tersebut kemudian diteruskan ke dinas terkait agar dapat segera ditindaklanjuti oleh BBWS.
"Apabila terdapat wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih, kami akan berkoordinasi dengan PDAM. Kami juga memiliki mobil tangki serta pompa air yang dapat dimanfaatkan apabila masih tersedia sumber air di lokasi," katanya.
Selain bantuan pompa, BBWS juga menyiapkan dukungan melalui program Instruksi Presiden (Inpres) bagi daerah yang mengalami kekurangan sumber air untuk layanan irigasi. Program tersebut dapat diusulkan oleh pemerintah daerah sesuai kebutuhan di lapangan.
Berdasarkan peta kerawanan yang dimiliki BBWS Cimanuk Cisanggarung, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada sektor irigasi meliputi Kabupaten Indramayu, Sumedang, Garut, dan Majalengka. Sementara untuk wilayah Cirebon bagian timur, perhatian lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS Cimanuk Cisanggarung, Hendra, memastikan kondisi Waduk Jatigede masih mampu menopang kebutuhan irigasi. "Tampungan air di Waduk Jatigede hingga saat ini masih berada di atas kondisi normal. Dari sisi operasional, kami terus memaksimalkan layanan distribusi air irigasi agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi," ujar Hendra.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap jadwal pembagian air irigasi. Menurutnya, apabila seluruh pengguna mengikuti aturan yang telah ditetapkan dan tidak terjadi pengambilan air secara liar, kebutuhan irigasi dipastikan tetap dapat terlayani dengan baik selama musim kemarau.
Selain bantuan pompa, BBWS juga menyiapkan dukungan melalui program Instruksi Presiden (Inpres) bagi daerah yang mengalami kekurangan sumber air untuk layanan irigasi. Program tersebut dapat diusulkan oleh pemerintah daerah sesuai kebutuhan di lapangan.
Berdasarkan peta kerawanan yang dimiliki BBWS Cimanuk Cisanggarung, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada sektor irigasi meliputi Kabupaten Indramayu, Sumedang, Garut, dan Majalengka. Sementara untuk wilayah Cirebon bagian timur, perhatian lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS Cimanuk Cisanggarung, Hendra, memastikan kondisi Waduk Jatigede masih mampu menopang kebutuhan irigasi. "Tampungan air di Waduk Jatigede hingga saat ini masih berada di atas kondisi normal. Dari sisi operasional, kami terus memaksimalkan layanan distribusi air irigasi agar kebutuhan pertanian tetap terpenuhi," ujar Hendra.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap jadwal pembagian air irigasi. Menurutnya, apabila seluruh pengguna mengikuti aturan yang telah ditetapkan dan tidak terjadi pengambilan air secara liar, kebutuhan irigasi dipastikan tetap dapat terlayani dengan baik selama musim kemarau.
Sementara itu Ketua Tim Program dan Anggaran Bidang Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air BBWS Cimancis Ir. Heri Pramawan, ST, MT, MPSDA mengatakan bahwa Sejak Pertengahan Juni 2026, BBWS Cimanuk-Cisanggarung sudah memulai Aksi dalam Menghadapi Musim Kemarau dan El Nino, di antaranya :
1.) Melakukan identifikasi Wilayah2 thdp Kondisi ketersediaan Air, baik Air Permukaan dan Air Tanah.
2.) Melakukan Optimalisasi Pengelolaan SDA, yaitu Optimalisasi operasi Tampungan Air (Waduk dan Situ)
3.) Melakukan monitoring dan Updating Alokasi Air real time Harian
4.) Melakukan pengaturan Pola tanam dan Jadwal tanam pada Daerah Irigasi
5.) Melakukan kesiapsiagaan ketersediaan Sumber Daya Peralatan : Mobil tangki, Mobil pompa, pompa air, pompa air Tenaga surya
6.) Pembuatan Sumur bor dan penyiapan pompa air untuk Tambahan supply air
7.) Melakukan rehabilitasi jaringan irigasi di Tahun Anggaran 2026 melalui kegiatan Inpres no 2 tahun 2025 untuk Irigasi Air Permukaan dan Irigasi Air Tanah (JIAT).
2.) Melakukan Optimalisasi Pengelolaan SDA, yaitu Optimalisasi operasi Tampungan Air (Waduk dan Situ)
3.) Melakukan monitoring dan Updating Alokasi Air real time Harian
4.) Melakukan pengaturan Pola tanam dan Jadwal tanam pada Daerah Irigasi
5.) Melakukan kesiapsiagaan ketersediaan Sumber Daya Peralatan : Mobil tangki, Mobil pompa, pompa air, pompa air Tenaga surya
6.) Pembuatan Sumur bor dan penyiapan pompa air untuk Tambahan supply air
7.) Melakukan rehabilitasi jaringan irigasi di Tahun Anggaran 2026 melalui kegiatan Inpres no 2 tahun 2025 untuk Irigasi Air Permukaan dan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....