Harganas 2026, DPPKBP3A Cirebon Ajak Keluarga Perkuat Pengasuhan Anak

  • 30 Jun 2026 04:52 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Kabupaten Cirebon dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat peran keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari stunting, krisis kesehatan mental, hingga fenomena fatherless yang dinilai berdampak pada tumbuh kembang anak. Peringatan tersebut digelar di halaman Kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon, Senin 29 Juni 2026.

Kepala DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, Indra Fitriani, yang membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, mengatakan Harganas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bagi setiap keluarga untuk membangun rumah yang aman, tangguh, dan mampu melahirkan generasi unggul.

"Hari ini bukan sekadar baris tanggal untuk seremonial, melainkan sebuah jeda kultural dan refleksi nasional. Mari kita tengok kembali rumah kita dan bertanya, sudahkah keluarga kita menjadi tempat bernaung yang aman, tangguh, dan siap melahirkan generasi pemenang?" ujarnya dikutip dari rilis Pemkab Cirebon.

Menurutnya pembangunan keluarga harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental. Pada aspek kesehatan, pemerintah terus mendorong percepatan penurunan stunting melalui pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, sedangkan pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga dengan menanamkan nilai integritas, kejujuran, dan disiplin sejak dini.

Ia menambahkan, keluarga juga harus menjadi ruang yang mampu menjaga kesehatan mental anak di tengah tekanan kehidupan modern. "Jadilah pelabuhan emosional yang stabil di tengah era yang penuh tekanan, agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang resilien dan tidak mudah menyerah," katanya.

Dalam sambutan tersebut, ia juga memberikan perhatian khusus terhadap peran ayah dalam pengasuhan. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia tidak akan tercapai apabila tanggung jawab pengasuhan hanya dibebankan kepada ibu.

"Kehadiran fisik dan kedekatan emosional ayah memiliki pengaruh besar dalam struktur kepribadian anak. Jangan biarkan anak-anak tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis," katanya.

Selain itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak membiarkan penggunaan gawai mengambil alih fungsi keluarga. Menurutnya, interaksi yang hangat di dalam rumah harus tetap menjadi prioritas agar perkembangan karakter anak tidak dipengaruhi sepenuhnya oleh teknologi digital.

"Jangan biarkan masa depan dan pola pikir anak-anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral. Jangan biarkan meja makan sunyi, karena semua sibuk menatap layar," ucapnya.

Ia juga mengajak para ayah untuk lebih aktif mendampingi anak melalui komunikasi yang hangat serta membatasi waktu penggunaan gawai hanya untuk aktivitas yang bermanfaat.

"Letakkan gawai Anda di rumah, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi waktu layar (screen time) mereka pada hal-hal yang produktif," katanya.

Menurutnya, meningkatnya berbagai persoalan sosial seperti tawuran pelajar, perundungan, pergaulan bebas, hingga penyalahgunaan narkoba menjadi peringatan bahwa fungsi keluarga harus terus diperkuat sebagai benteng pertama pembentukan karakter anak.

"Jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku. Benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan," ujarnya.

Ia menegaskan, keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Karena itu, pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter manusia agar Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....