Komnas PA Cirebon Minta Ortu Waspadai Bullying
- 23 Jun 2026 11:43 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Lemahnya pengawasan dari lingkungan terdekat, baik keluarga maupun sekolah, dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat kasus bullying pada anak dan remaja terus terjadi dan sering terlambat terdeteksi. Kondisi tersebut menyebabkan banyak korban mengalami tekanan psikologis berkepanjangan karena perubahan perilaku mereka tidak segera dikenali oleh orang tua maupun tenaga pendidik.
Dalam Dialog Cirebon Menyapa yang disiarkan RRI pada Rabu, 17 Juni 2026, Ketua Komnas Perlindungan Anak Cirebon Raya, Siti Nuryani, mengatakan perhatian terhadap perubahan perilaku anak perlu menjadi langkah awal untuk mencegah perundungan berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Menurutnya, keluarga dan sekolah harus lebih peka ketika melihat anak yang mulai menyendiri, pendiam, atau menunjukkan tanda-tanda tertekan.
“Perubahan apa yang ada pada anak kita harus tahu. Kalau ada anak yang menyendiri, diam, atau banyak termenung, itu harus cepat ditanya kenapa, karena bisa jadi anak itu dalam keadaan tertekan,” kata Siti Nuryani.
Ia menjelaskan kasus bullying tidak hanya terjadi antar siswa tanpa sepengetahuan sekolah, tetapi juga dapat muncul dari lingkungan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak. Bahkan, pihak yang memiliki posisi lebih tinggi dan menjadi panutan terkadang justru terlibat dalam tindakan yang mengarah pada perundungan fisik maupun verbal.
Menurutnya, dampak yang dialami korban tidak hanya berupa luka fisik, tetapi juga gangguan psikologis yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Banyak korban yang menjadi takut bertemu pelaku, enggan kembali ke sekolah, hingga memilih mengurung diri karena khawatir mengalami kekerasan yang sama.
“Setiap kali kami mendampingi kasus bully, korbannya luar biasa takut. Bukan hanya takut bertemu pelaku, tetapi juga takut berangkat sekolah dan akhirnya menjadi murung atau hanya diam di kamar,” ucapnya.
Ia menambahkan pencegahan bullying harus dilakukan melalui pengawasan yang lebih aktif dari seluruh pihak, terutama keluarga dan sekolah, agar perubahan perilaku anak dapat segera diketahui dan ditangani. Dengan deteksi dini dan lingkungan yang ramah anak, risiko terjadinya perundungan maupun dampak psikologis yang lebih berat dapat diminimalkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....