Guru BK SMPN 2 Sumber: Tren FOMO Jadi Tekanan Remaja di Sekolah

  • 19 Jun 2026 18:27 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon — Fenomena fear of missing out (FOMO) atau ketakutan tertinggal tren menjadi salah satu bentuk tekanan teman sebaya yang paling sering dialami remaja di lingkungan sekolah. Tekanan ini umumnya terjadi secara halus sehingga sering kali tidak disadari oleh para pelajar. Akibatnya, banyak remaja mengikuti tren tertentu demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan pergaulan.

Guru BK SMP Negeri 2 Sumber, Hj. Maesaroh, S.Pd., mengatakan tekanan teman sebaya saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk ajakan langsung. Perkembangan media sosial membuat pengaruh kelompok semakin mudah menyebar dan memengaruhi perilaku remaja. Kondisi tersebut mendorong pelajar untuk mengikuti berbagai tren yang sedang populer.

Menurutnya, FOMO membuat remaja memiliki keinginan untuk menjadi yang paling menonjol di antara teman-temannya. Keinginan tersebut berkaitan dengan kebutuhan aktualisasi diri dan pembentukan identitas pada masa remaja. Karena itu, mereka sering terdorong untuk mengikuti apa yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial.

“Yang paling sering ditemui adalah tren FOMO di media sosial. Remaja ingin menjadi yang paling menonjol karena berkaitan dengan aktualisasi diri dan identitas kepercayaan dirinya,” ujarnya kepada RRI Kamis, 18 Juni 2026.

Maesaroh menjelaskan bahwa ajakan langsung dari teman sebaya memang masih ada, tetapi bentuknya terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, pengaruh tren digital lebih dominan dibandingkan tekanan secara langsung. Banyak remaja terdorong mengikuti suatu aktivitas karena melihat popularitasnya di media sosial.

Salah satu contoh yang banyak ditemukan adalah tren olahraga yang sedang digemari kalangan remaja. Namun, tidak semua pelajar mengikuti tren tersebut karena alasan kesehatan atau kebugaran. Sebagian justru tertarik pada aspek penampilan dan gaya hidup yang melekat pada tren tersebut.“Kadang yang diikuti bukan manfaat olahraganya, tetapi tren untuk membangun identitas diri melalui penampilan, seperti pakaian olahraga yang sedang populer. Jadi fokusnya lebih ke fashion daripada kebutuhan kesehatannya,” ucapnya.

Ia menambahkan, orang tua dan sekolah perlu memahami tanda-tanda ketika seorang remaja mengikuti tren karena tekanan sosial. Pendekatan yang tepat diperlukan agar remaja dapat membedakan antara minat pribadi dan dorongan untuk sekadar mengikuti lingkungan. Dengan demikian, mereka dapat membangun kepercayaan diri tanpa harus bergantung pada pengakuan dari kelompok pertemanan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....