Kemenag Kabupaten Cirebon Jalin Kolaborasi Lintas Sektor Pembinaan Siswa

  • 18 Jun 2026 15:38 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon menggandeng penyuluh lintas iman dan Densus 88 untuk memberikan edukasi kepada pelajar di sejumlah madrasah dan sekolah. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai toleransi, kebersamaan, dan cinta tanah air sejak dini.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, H. Slamet, mengatakan penguatan program tersebut diawali dengan pelaksanaan Training of Trainer (TOT) bagi tenaga pendidik dan pengawas. Program ini bertujuan agar nilai-nilai yang terkandung dalam kurikulum berbasis cinta dapat diterapkan secara berkelanjutan di seluruh satuan pendidikan di bawah Kementerian Agama.

“Karena memang tutorial kita ini sedikit yang menguasai, sehingga kita mengadakan semacam TOT atau Training of Trainer. Nanti hasil trainer ini untuk membiasakan kepada peserta didik, sehingga di seluruh satuan pendidikan khususnya di Kementerian Agama dapat menanamkan kurikulum berbasis cinta,” ujar Slamet kepada RRI pada Kamis 18 Juni 2026.

Menurutnya, kurikulum berbasis cinta bukanlah konsep baru dalam dunia pendidikan. Namun, Kementerian Agama ingin memastikan nilai-nilai keagamaan yang diajarkan mampu memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Selain itu, Kemenag Kabupaten Cirebon juga menjalin kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon dalam berbagai kegiatan pembinaan siswa. Program tersebut melibatkan penyuluh lintas iman serta personel Densus 88 untuk memberikan edukasi di madrasah maupun sekolah umum.

Selama dua bulan, tim gabungan tersebut dijadwalkan berkeliling ke sejumlah MTs dan MA untuk menyampaikan materi tentang toleransi, kebersamaan, dan pencegahan radikalisme. Kegiatan itu turut melibatkan penyuluh agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan agama lainnya.

“Kita kolaborasikan antara penyuluh lintas iman dan Densus 88 dalam rangka membangun sinergisitas serta membuktikan kepada para siswa bahwa kita bisa hidup bersama. Tidak hanya dengan satu iman, tetapi juga bersama orang lain tanpa menyakiti sesama,” katanya.

H. Slamet berharap pendekatan tersebut dapat menjadi contoh nyata bagi para pelajar mengenai pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman. Melalui program itu, siswa diharapkan memahami bahwa kehidupan bermasyarakat harus dibangun dengan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....