PGRI Kota Cirebon Ajak Masyarakat Terlibat Aktif Kelola Pendidikan

  • 04 Mei 2026 13:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon — Semangat gotong royong ditegaskan sebagai kunci utama dalam mewujudkan pendidikan inklusif dan bermutu di wilayah Ciayumajakuning, sebagaimana mengemuka dalam Dialog Cirebon Menyapa edisi Senin, 4 Mei 2026, yang menghadirkan Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto, M.Pd., dengan penekanan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen, bukan hanya pemerintah semata.

Dalam dialog tersebut, Eka Novianto menyampaikan bahwa tema Hari Pendidikan Nasional tentang penguatan partisipasi semesta perlu dipahami secara luas oleh masyarakat, karena keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pihak, mulai dari guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa landasan hukum keterlibatan masyarakat dalam pendidikan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang secara tegas menyebutkan adanya peran serta masyarakat dalam berbagai aspek pendidikan.

“Yang perlu kita pahami bersama bahwa pendidikan ini kan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya kepada RRI Senin, 4 Mei 2026.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peran masyarakat tidak hanya bersifat pendukung, tetapi juga mencakup keterlibatan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi program pendidikan sesuai amanat undang-undang.

“Di Undang-Undang Sisdiknas pasal 54 menyatakan bahwa peran serta masyarakat dalam pendidikan itu ada, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, juga evaluasi program pendidikan,” katanya.

Menurutnya, nilai gotong royong yang telah mengakar dalam budaya bangsa Indonesia menjadi modal penting dalam mendorong terciptanya sekolah yang inklusif, yakni sekolah yang mampu memberikan layanan pendidikan bagi semua peserta didik tanpa terkecuali.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas elemen menjadi syarat mutlak agar pendidikan dapat berjalan optimal dan mampu menjawab tantangan zaman yang terus berkembang, sehingga kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata di seluruh daerah.

“Semangat gotong-royong ini kan menjadi kunci penting untuk mewujudkan sekolah yang inklusif… memerlukan kolaborasi dari seluruh elemen, apakah itu guru, tenaga kependidikan, orang tua, peserta didik, serta masyarakat luas,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....