BPBD Majalengka Gandeng Paguyuban Silihwangi Antisipasi Karhutla Ciremai
- 02 Mei 2026 19:57 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Majalengka - Ancaman cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino kembali membayangi wilayah Jawa Barat. Di tengah awal musim kemarau yang mulai menunjukkan penurunan curah hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka memperkuat strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan rawan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Langkah konkret dilakukan melalui Gladi Penanggulangan Bencana Karhutla yang digelar pada Kamis, 30 April 2026, di Bumi Perkemahan Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional sekaligus memperkuat sistem respons cepat lintas sektor di kawasan konservasi strategis tersebut.
Simulasi yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga komunitas masyarakat, digelar seiring meningkatnya potensi kekeringan di wilayah lereng gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Kondisi vegetasi yang mulai mengering akibat suhu tinggi dan kelembapan rendah dinilai berpotensi mempercepat munculnya titik api.
Kepala Pelaksana BPBD Majalengka, Agus Tamim, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak boleh bersifat reaktif semata. Menurutnya, sistem mitigasi harus dibangun secara komprehensif melalui pendekatan struktural dan nonstruktural yang menitikberatkan pada pencegahan serta penguatan kapasitas masyarakat.
"Mitigasi nonstruktural itu terkait kesiapsiagaan pencegahan, sedangkan struktural menyangkut dukungan sarana dan sistem. Intinya, kita harus siap sebelum bencana terjadi," ujarnya, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia menekankan pentingnya peran masyarakat desa penyangga kawasan hutan sebagai garda terdepan dalam penanggulangan karhutla. Warga dinilai memiliki pengetahuan lapangan dan kemampuan respons cepat saat kebakaran mulai terjadi.
Secara geografis, Kabupaten Majalengka memiliki kerentanan bencana yang kompleks, mulai dari wilayah pegunungan hingga dataran rendah. Kondisi ini memicu potensi bencana berlapis, seperti longsor di lereng dan banjir di wilayah bawah.
Berdasarkan indeks kebencanaan, Majalengka tercatat berada di peringkat 15 di Jawa Barat. Sementara itu, secara nasional berada di posisi 273 dari total 514 kabupaten/kota.
Dalam simulasi tersebut, BPBD juga menyoroti dampak signifikan fenomena El Nino yang meningkatkan suhu udara dan menurunkan kelembapan. Kondisi ini mempercepat kekeringan vegetasi, terutama di kawasan Argapura yang didominasi material mudah terbakar seperti rumput kering dan serasah hutan.
"Pada fase El Nino ekstrem, suhu bisa sangat tinggi di jam tertentu. Ini meningkatkan risiko karhutla, terutama di kawasan rawan seperti Ciremai," kata Agus.
Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum evaluasi kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat koordinasi antarinstansi dalam sistem penanggulangan terpadu.
Dukungan terhadap langkah BPBD Majalengka juga datang dari masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Paguyuban Silihwangi Majakuning yang terdiri dari Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) menyatakan komitmennya untuk terlibat aktif dalam pencegahan karhutla berbasis komunitas.
Ketua Paguyuban Siliwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, menilai sinergi antara BPBD, pengelola taman nasional, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam upaya deteksi dini dan pencegahan kebakaran. Hal ini khususnya di tengah ancaman El Nino.
"Sebagai masyarakat desa penyangga, kami siap menjadi garda terdepan. Patroli rutin dan deteksi dini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama," ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada kegiatan simulasi. Keterlibatan tersebut juga mencakup aktivitas berkelanjutan seperti patroli hutan, edukasi warga, serta pengawasan terhadap potensi sumber api di sekitar permukiman dan lahan pertanian.
Sebagai bentuk kesiapan, Paguyuban Silihwangi Majakuning juga telah menyalurkan bantuan alat pemadaman awal berupa waterjet shooter punggung kepada sejumlah kelompok tani hutan. Peralatan ini dirancang untuk mempercepat respons awal saat muncul titik api, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Dukungan serupa disampaikan Ketua KTH Caladi Sakti, Suharman. Ia menegaskan komitmen komunitasnya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga kelestarian kawasan hutan Ciremai melalui patroli rutin dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan berbasis komunitas ini, sistem mitigasi karhutla di Kabupaten Majalengka diharapkan semakin adaptif dan responsif. Hal tersebut dalam menghadapi puncak musim kemarau serta ancaman bencana yang kian kompleks.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....