Capaian IPM Melesat, Majalengka Hadapi Tantangan Ribuan Anak Tidak Sekolah

  • 02 Mei 2026 12:08 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka - Di tengah capaian sebagai daerah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di wilayah Ciayumajakuning, Kabupaten Majalengka dihadapkan pada tantangan serius. Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) masih tinggi dan menembus lebih dari 10 ribu jiwa.

Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 yang digelar di Lapangan GGM Majalengka, Sabtu 2 Mei 2026 menjadi panggung refleksi atas capaian sekaligus pekerjaan rumah besar di sektor pendidikan. Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, dalam amanatnya menegaskan bahwa kemajuan pendidikan harus berjalan seiring dengan pemerataan akses bagi seluruh anak.

"IPM Majalengka tahun 2026 mencapai 71,37, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan tertinggi di Ciayumajakuning. Ini menunjukkan investasi pendidikan mulai membuahkan hasil,” ujarnya

Namun di balik capaian tersebut, data menunjukkan sebanyak 10.374 anak di Majalengka belum mengakses pendidikan formal pada tahun ajaran 2025/2026. Kondisi ini menjadi sorotan utama pemerintah daerah.

"Tidak boleh ada lagi anak Majalengka yang tidak bersekolah. Ini adalah tanggung jawab bersama," katanya menegaskan. Sejumlah indikator pendidikan turut menunjukkan tren positif, di antaranya Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang meningkat menjadi 7,81 dari sebelumnya 7,53 pada 2024.

Selain itu, Angka Partisipasi Murni (APM) juga tercatat tinggi di berbagai jenjang, seperti PAUD 90,90 persen, SD/MI 90,79 persen, dan SMP/MTs 85,92 persen. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, H. Muhamad Umar Ma’ruf, memastikan pihaknya akan menindaklanjuti arahan Bupati dengan memperkuat strategi penanganan ATS melalui pendekatan "jemput bola".

“Kami akan memperluas sinergi lintas sektor untuk memastikan anak-anak yang putus sekolah bisa kembali mengakses pendidikan, baik formal maupun nonformal,” ujarnya. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak yang putus sekolah.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Majalengka, Iman Pramudiya, menilai capaian IPM yang tinggi patut diapresiasi. Namun, penanganan ATS membutuhkan langkah yang lebih sistematis dan kolaboratif.

"Persoalan ini tidak bisa diselesaikan pemerintah saja. Perlu keterlibatan masyarakat, dunia usaha, hingga tokoh lokal untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari akses pendidikan," katanya.

Ia juga mendorong optimalisasi jalur pendidikan nonformal dan program kesetaraan sebagai solusi alternatif. Langkah tersebut ditujukan bagi anak-anak yang tidak dapat kembali ke sekolah formal.

Dengan capaian dan tantangan tersebut, peringatan Hardiknas 2026 di Majalengka menjadi penanda penting dalam pembangunan pendidikan. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal angka, tetapi juga memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....