Tren Lari Viral, Joki Strava jadi Sorotan
- 28 Apr 2026 11:30 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Di era digital yang serba terkoneksi, gaya hidup sehat tidak lagi sekadar menjadi kebutuhan pribadi, tetapi juga bagian dari citra yang ditampilkan di media sosial. Dahulu, aktivitas olahraga seperti lari dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh atau sekadar hobi.
Namun kini, dengan hadirnya berbagai aplikasi pelacak aktivitas seperti Strava, olahraga juga menjadi ajang untuk menunjukkan pencapaian diri kepada publik. Perubahan ini tidak lepas dari perkembangan media sosial yang mendorong setiap individu untuk tampil aktif, produktif, dan “ideal” di hadapan orang lain.
Di tengah tren tersebut, muncul fenomena baru yang cukup menyita perhatian, yaitu “joki Strava”. Dilansir dari lpmdidaktika.com dalam artikelnya berjudul “Tren Joki Strava: Tekanan Validasi Diri dalam Masyarakat Cair”, praktik ini menggambarkan bagaimana sebagian orang rela menyewa jasa orang lain untuk melakukan aktivitas olahraga atas nama mereka.
Hal ini dilakukan agar data aktivitas yang tercatat di aplikasi terlihat tinggi dan mengesankan saat dibagikan ke media sosial. Fenomena joki Strava menunjukkan adanya pergeseran makna olahraga.
Jika sebelumnya olahraga identik dengan kesehatan fisik dan mental, kini sebagian orang memaknainya sebagai simbol status sosial di dunia digital. Tidak sedikit pengguna yang merasa terdorong untuk mengikuti tren agar tidak tertinggal atau mengalami Fear Of Missing Out (FOMO), sebagaimana tekanan untuk terlihat “aktif” dan “sehat” akhirnya melahirkan praktik instan seperti penggunaan jasa joki.
Tren ini juga mulai terlihat di berbagai daerah, termasuk di Komplek Stadion Bima Kota Cirebon. Riza warga asal Kota Cirebon, salah satu pelari yang rutin berolahraga di Stadion Bima, mengungkapkan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap lari tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial bahkan menyinggung fenomena joki Strava sebagai bagian dari tren tersebut.
“Biasanya di sini ada yang namanya joki Strava. Terutama saya sebagai penjoki di sini, banyak orang jadi lari karena ikut tren atau FOMO,” ujar Riza kepada RRI, Senin, 27 April 2026.
Meski begitu, Riza menilai fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Menurutnya, tren tersebut tetap membawa dampak positif karena mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak dan menjalani pola hidup sehat.
Di sisi lain, fenomena ini juga menimbulkan dilema, di satu pihak, meningkatnya minat olahraga tentu menjadi kabar baik bagi kesehatan masyarakat. Namun, praktik joki Strava mencerminkan adanya tekanan sosial yang kuat untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Hal ini sejalan dengan konsep “masyarakat cair” yang dijelaskan dalam artikel LPM Didaktika, di mana identitas dan nilai seseorang menjadi lebih fleksibel, namun sekaligus rentan terhadap pengaruh eksternal, terutama dari media sosial. Dengan kata lain, joki Strava bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari perubahan perilaku masyarakat di era digital.
Validasi sosial kini menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan kebutuhan fisik itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk kembali memahami esensi dari olahraga sebagai aktivitas yang bertujuan menjaga kesehatan, bukan hanya untuk memenuhi ekspektasi digital. (Febriana/UGJ Cirebon dan Nada/EGS Cirebon)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....