Psikolog Ingatkan Risiko Bicara di Medsos

  • 23 Apr 2026 11:43 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Fenomena curhat atau speak up di media sosial semakin marak di era digital saat ini. Banyak orang merasa puas setelah mengunggah perasaan di media sosial, namun tidak semua siap menghadapi respons dari publik.

Psikolog Srini Priyanti., S.Psi., Psikolog menilai bahwa penggunaan media sosial sebagai ruang berbagi emosi perlu disikapi dengan bijak. Setiap unggahan yang bersifat pribadi berpotensi memunculkan beragam reaksi dari pengguna lain.

"Seringkali ketika seseorang melakukan speak up di media sosial, harus ditanyakan pada diri sendiri apakah siap secara mental menghadapi respons positif maupun negatif," ujar Srini Priyanti kepada RRI Selasa, 21 April 2026. Ia menjelaskan bahwa ketidaksiapan mental dapat memicu tekanan emosional yang berujung pada kecemasan bahkan depresi.

Menurutnya, tidak sedikit kasus yang akhirnya membutuhkan penanganan profesional karena dampak dari komentar negatif di media sosial. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mempertimbangkan tujuan dari ungkapan emosi sebelum membagikannya secara terbuka.

Selain itu, generasi muda perlu memahami bahwa setiap pilihan dalam menggunakan media sosial memiliki risiko yang harus diterima. Peran orang dewasa dinilai penting dalam membimbing anak-anak agar lebih bijak dalam bermedia sosial.

"Ketika kita memilih untuk aktif di media sosial, maka risiko untuk dikomentari macam-macam menjadi bagian yang tidak terhindarkan," ucap Srini Priyanti. Ia menegaskan bahwa kesadaran terhadap risiko tersebut harus menjadi bagian dari proses pendewasaan digital.

Di sisi lain, penyediaan ruang aman untuk berbagi emosi menjadi langkah penting dalam meminimalkan dampak negatif saat korban mulai berbicara. Ruang berbagi yang aman memungkinkan korban menyalurkan emosi tanpa takut dihakimi atau disalahkan.

Melalui dukungan layanan yang disediakan pemerintah dan unit layanan terkait, korban diharapkan memiliki tempat yang lebih aman untuk berbagi pengalaman. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu korban mengelola emosi secara sehat tanpa harus menghadapi tekanan publik di media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....