Eceng Gondok Waduk Darma Cemari Cisanggarung, Perlu Penanganan Terpadu

  • 20 Apr 2026 11:17 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Limpasan tanaman eceng gondok dari Waduk Darma ke aliran Sungai Cisanggarung, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, memicu kekhawatiran warga terhadap kondisi lingkungan, Minggu 19 April 2026. Tumpukan gulma air yang terbawa arus hingga ke hilir dinilai berpotensi merusak keseimbangan ekosistem perairan.

Sungai Cisanggarung yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian kini mengalami penurunan kualitas. Di sejumlah titik, permukaan air tertutup eceng gondok, sementara sebagian lainnya tersangkut di bebatuan dan bantaran sehingga menghambat aliran.

Warga Desa Kadugede, Deni Darmadi, mengaku kondisi tersebut meresahkan masyarakat. Selain mengganggu aktivitas, tumpukan eceng gondok juga dikhawatirkan mencemari air saat mulai membusuk.

“Kalau debit air kecil, eceng gondok tidak terbawa arus. Jadi menumpuk di sini, nyangkut di batu dan pinggir sungai,” ujar Deni Darmadi.

Ia menambahkan, jika dibiarkan, kondisi ini bisa memperburuk kualitas lingkungan sungai yang selama ini dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan.

Secara ekologis, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali dapat menurunkan kadar oksigen di dalam air, menghambat masuknya cahaya matahari, serta mengganggu kehidupan biota sungai. Dampaknya, ekosistem perairan terancam dan potensi pendangkalan semakin besar.

Fenomena meluapnya eceng gondok ini sempat viral di media sosial, terutama di wilayah Kadugede hingga Nusaherang. Warga menilai, tumpukan gulma air tersebut berasal dari kawasan Waduk Darma yang terbawa aliran air ke Sungai Cisanggarung.

Pengelola Unit Pengelola Bendungan Waduk Darma BBWS Cimanuk–Cisanggarung, Dodo Wardoyo, membenarkan bahwa eceng gondok yang masuk ke Sungai Cisanggarung merupakan limpasan dari area waduk.

Ia menjelaskan, peristiwa tersebut dipicu oleh kombinasi hujan deras dan angin kencang yang merusak penghalang eceng gondok di waduk. Pada saat yang sama, kondisi bendungan yang sedang limpas membuat tanaman tersebut tidak tertahan dan ikut terbawa arus menuju pelimpah (spillway), lalu masuk ke aliran sungai.

“Kemarin angin cukup kencang dan hujan besar, sehingga penghadang yang sudah kami bangun tidak kuat dan hanyut. Karena posisi bendungan sedang limpas, eceng gondok akhirnya ikut mengalir ke arah pelimpah,” ujar Dodo saat dikonfirmasi, Senin 20 April 2026.

Ia menegaskan, penanganan eceng gondok sebenarnya telah dilakukan secara rutin, baik melalui pengangkatan manual maupun menggunakan alat berat.

“Pembersihan ini memang sudah menjadi kegiatan rutin. Kami menggunakan alat seperti harvester dan juga melibatkan petugas lapangan. Namun, karena volumenya besar, penanganannya perlu dilakukan bersama,” katanya.

Tumpukan eceng gondok terlihat mengalir di Sungai Cisanggarung, Kadugede. Warga mengeluhkan kondisi ini karena dinilai mencemari lingkungan dan menghambat aliran air.

Menurut Dodo, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat serta pihak terkait lainnya untuk memperkuat penanganan secara kolaboratif.

Pengangkatan difokuskan di titik-titik krusial seperti pintu intake, area bendungan utama, dan spillway agar tidak mengganggu operasional bendungan.

Meski demikian, warga berharap upaya penanganan tersebut dapat lebih optimal dan berkelanjutan, sehingga eceng gondok tidak kembali meluber dari Waduk Darma ke Sungai Cisanggarung dan merusak keseimbangan lingkungan di wilayah hilir.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....