Media Sosial Jadi Salah Satu Pemicu Kenakalan Remaja

  • 18 Apr 2026 16:25 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Perkembangan media sosial dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya kenakalan remaja, sehingga penggunaannya perlu dikendalikan secara bijak, terutama oleh orang tua. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Hukum UGJ Cirebon, Dr. Moh. Sigit Gunawan, SH., MKn., dalam program Suara Anti Narkoba, Korupsi, dan Judi (SANKSI) RRI Cirebon, Rabu, 15 April 2026, bertema “Stop Kenakalan Remaja, Start Masa Depan!”.

Ia menjelaskan, di tengah arus digital yang semakin cepat, remaja berada pada fase mencoba hal-hal baru yang berisiko jika tidak diarahkan dengan baik. “Fase anak adalah fase mencoba. Jangan dibiarkan, kita butuh arahan,” ujarnya.

Menurutnya, media sosial dan dunia digital memiliki dua sisi, yakni dapat menjadi sarana positif maupun justru memicu perilaku menyimpang jika tidak dikendalikan. Ia menyoroti fenomena konten viral dan dorongan untuk mendapatkan perhatian yang kerap membuat remaja melampaui batas.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat berdampak pada munculnya berbagai persoalan, mulai dari perundungan (bullying) hingga pelanggaran hukum berbasis digital. Bahkan, motif mencari keuntungan atau popularitas kerap mengabaikan dampak terhadap orang lain.

“Banyak media sosial digunakan hanya untuk FYP, dapat poin atau uang, tapi merugikan orang lain tanpa disadari,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai kontrol dari orang tua menjadi kunci utama dalam membatasi penggunaan gawai dan media sosial pada anak. Tanpa pengawasan, anak berpotensi terpapar konten negatif, termasuk perjudian online hingga penyalahgunaan narkoba.

“Penggunaan ponsel oleh anak perlu dikendalikan. Jangan dibiarkan tanpa kontrol,” ucapnya.

Ia menambahkan, kemudahan akses internet saat ini membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan aktivitas fisik maupun sosial. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu perkembangan karakter dan interaksi sosial remaja.

Selain itu, ia juga menyoroti tekanan psikologis yang muncul dari media sosial, seperti kebutuhan akan pengakuan dan rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO), yang dapat mendorong remaja melakukan hal-hal negatif.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua, sekolah, dan pemerintah dalam memberikan edukasi serta membangun karakter remaja di tengah perkembangan digital.

“Orang tua tetap harus mengendalikan, membimbing, dan mengarahkan anak, agar tidak salah dalam mengambil keputusan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana positif untuk pengembangan diri, bukan justru menjadi pintu masuk kenakalan remaja.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....