UPT PPA Kota Cirebon Gunakan Pendekatan Ramah Anak Tangani Korban

  • 14 Apr 2026 14:59 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3APPKB Kota Cirebon bergerak cepat melakukan pendampingan terhadap korban dugaan penculikan anak berinisial KA (9), dengan mengedepankan pendekatan psikologis dan prosedur yang ramah anak sejak awal penanganan hingga proses hukum. Pendampingan ini dilakukan secara bertahap melalui koordinasi lintas sektor guna memastikan kondisi korban tetap stabil sekaligus mendukung kelancaran proses penyidikan.

Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak DP3APPKB Kota Cirebon, Linda Desyani, mengungkapkan bahwa pihaknya biasanya menerima informasi awal dari berbagai jejaring yang dimiliki, termasuk kader di tingkat lingkungan hingga media. Setelah menerima informasi, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran kejadian melalui jaringan kader di lapangan.

“Kami tahu itu biasanya kita akan pertama biasanya mencari tahu, iya kita telaah dulu, mungkin kita walaupun misalnya belum masuk ke keluarganya di kami kader-kader itu akan mencari tahu,” ujarnya.

Setelah dipastikan valid, tim langsung melakukan penjangkauan ke lokasi dan kediaman korban untuk memberikan respons awal. Linda menjelaskan, “Kemarin pun di saat kejadian, satu hari setelahnya kami penjangkauan dimulai dari kader dari kami ternyata menyampaikan bahwa itu benar.” Ujarnya kepada RRI, Selasa 14 Maret 2026.

Selanjutnya, UPT PPA bersama instansi terkait langsung turun ke lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta Dinas Sosial. Ia menambahkan, “Keesokannya kita juga atas perintah Pak Kadis juga, kita mendatangi ke rumahnya dan ternyata memang di hari itu juga sudah langsung olah TKP ya Pak.” ucapnya

Dalam proses pendampingan, aspek psikologis anak menjadi perhatian utama agar korban tidak mengalami trauma berulang akibat proses pemeriksaan. “Anak ini kan enggak tahu apa yang terjadi. Dia juga kebingungan dengan banyak orang, nah kita juga biasanya koordinasi lah dengan kepolisiannya supaya diberikan jeda waktu dulu,” katanya.

Pendekatan yang dilakukan pun bersifat persuasif dan ramah anak, dengan menciptakan suasana nyaman sebelum pengambilan keterangan dilakukan.

“Biasanya kita ajak masuk dulu, ngobrol dulu, menanyakan hal yang mungkin belum langsung ke intinya ya, setelah anak mulai nyaman, mulai terbuka, biasanya itu mulai dicari-cari buktinya.” ucapnya

Ia juga menegaskan bahwa proses pemeriksaan dilakukan di ruang khusus yang telah disesuaikan agar anak merasa aman, serta didampingi petugas yang berpengalaman. “Jadi kondisi ruangannya juga kita setting senyaman mungkin untuk anak tidak di tempat BAP biasa seperti kasus lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa korban menunjukkan sikap kooperatif selama proses pendampingan, sehingga membantu pengungkapan kasus secara lebih jelas. “Alhamdulillah anaknya termasuk anak yang cerdas ya Pak. Dia juga kooperatif, bahkan dengar ceritanya pun ya mungkin dia bisa menceritakan detailnya,” katanya.

Meski demikian, Linda menilai kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan terhadap anak masih bisa terjadi dengan berbagai modus, sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....