Ketua KTNA Pasekan Soroti Perlindungan ABK dan Akses BPJS
- 12 Apr 2026 11:08 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Momentum Hari Nelayan Nasional 2026 dimanfaatkan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Pasekan Kabupaten Indramayu, Jayanto, untuk menyoroti pentingnya perlindungan awak buah kapal (ABK), optimalisasi jaminan BPJS Ketenagakerjaan, serta berbagai tantangan seperti jarak melaut yang jauh, risiko sakit, hingga cuaca yang mempengaruhi hasil tangkapan. Ia menegaskan, meski nelayan tetap berkontribusi terhadap ketahanan pangan berbasis laut, dukungan pemerintah masih dibutuhkan agar keselamatan dan kesejahteraan nelayan lebih terjamin.
Jayanto menjelaskan, perlindungan ABK menjadi hal mendesak karena sebagian besar nelayan Pasekan melaut hingga perairan jauh seperti Papua dengan durasi yang tidak singkat. Kondisi tersebut membuat risiko di laut semakin tinggi, terutama ketika terjadi gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat. Ia menyebut, saat terjadi ABK sakit di tengah pelayaran, perlindungan yang diharapkan belum sepenuhnya dirasakan oleh para nelayan.
“Jika ada ABK sakit BPJS Ketenagakerjaan ini juga kan belum maksimal berlaku di sana luar wilayah, kami sering mengeluarkan uang sendiri atau mengeluarkan uang pribadi dari nakoda kami,” ucapnya kepada RRI, Selasa, 7 April 2026. Menurutnya, kondisi ini menjadi beban tambahan bagi nelayan karena harus menanggung biaya secara mandiri di tengah keterbatasan.
Di sisi lain, Jayanto menyebut nelayan Pasekan tetap berperan dalam mendukung ketahanan pangan berbasis laut dengan membawa hasil tangkapan ke tempat pelelangan ikan di Indramayu. Ia menjelaskan, meskipun melaut dalam waktu lama, hasil tangkapan tetap didistribusikan ke daerah asal sebagai bagian dari kontribusi terhadap kebutuhan pangan.
“Kalau hasil tangkapan tetap dibawa pulang ke Kabupaten Indramayu atau ke tempat pelelangan Karangsong,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa sistem perikanan yang digunakan saat ini didukung kapal besar bermesin diesel dengan kapasitas di atas GT 100, sehingga memungkinkan pelayaran jarak jauh.
Selain persoalan perlindungan, ia juga mengungkapkan sejumlah tantangan utama yang dihadapi nelayan, yaitu mulai dari kendala mesin, risiko ABK sakit saat pelayaran panjang, hingga cuaca buruk yang memaksa kapal berlindung ke pulau terdekat. Meski dalam beberapa waktu terakhir kondisi cuaca dinilai cukup baik sehingga hasil tangkapan dari wilayah Papua dan Timika relatif melimpah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....