BNN Kota Cirebon Minta Orang Tua Awasi Ancaman Vape Narkotika

  • 04 Apr 2026 11:56 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Meningkatnya tren penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja kini menjadi perhatian serius Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cirebon, terutama terkait potensi penyalahgunaan liquid vape yang dapat disusupi zat berbahaya tanpa sepengetahuan pengguna. Kondisi ini mendorong BNN untuk mengimbau para orang tua agar lebih peka dan waspada terhadap perubahan perilaku anak di lingkungan keluarga.

Ketua Tim Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Kota Cirebon, Yusdian Abdi Perdana, menjelaskan bahwa pengawasan terhadap jenis liquid vape yang digunakan menjadi langkah awal yang sangat penting dalam mendeteksi potensi penyalahgunaan. Ia menegaskan bahwa produk vape yang legal umumnya memiliki ciri fisik yang jelas seperti adanya cukai, izin edar, serta informasi produsen yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jika ditemukan liquid vape tanpa izin resmi atau tidak memiliki cukai, maka kondisi tersebut patut dicurigai sebagai produk ilegal yang berpotensi disalahgunakan,” ujarnya kepada RRI, Kamis, 2 April 2026. Ia menambahkan bahwa peran keluarga menjadi garda terdepan dalam mencegah masuknya zat berbahaya ke dalam kehidupan anak.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa perubahan perilaku anak juga dapat menjadi indikator awal yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua, terutama jika terjadi secara tiba-tiba dan tidak biasa. Gejala seperti mata merah, bicara tidak jelas, sulit fokus, hingga kondisi linglung perlu menjadi perhatian serius sebagai tanda adanya kemungkinan paparan zat berbahaya.

“Efeknya bisa muncul hanya dalam satu hingga dua hisapan saja, sehingga perubahan kondisi fisik maupun perilaku dapat terlihat dengan cepat dalam waktu singkat,” katanya. Ia mengingatkan bahwa keterlambatan dalam mengenali gejala dapat berdampak lebih besar terhadap kesehatan anak.

Menurut Yusdian, BNN juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak agar tercipta hubungan yang saling percaya. Dengan pendekatan yang tepat, anak diharapkan lebih memahami risiko penyalahgunaan zat serta berani terbuka jika menghadapi tekanan dari lingkungan.

Selain itu, pendekatan preventif dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah penyalahgunaan terjadi, karena dampaknya bisa dicegah sejak awal. Oleh karena itu, keluarga diharapkan tidak hanya bersikap reaktif, tetapi juga proaktif dalam melakukan pengawasan dan edukasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....