Psikolog: Batasi Penggunaan HP Anak Secara Bertahap agar Mengurangi Sikap Tantrum
- 11 Mar 2026 12:34 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Kebijakan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun menimbulkan tantangan tersendiri bagi para orang tua. Banyak orang tua mengaku kebingungan saat harus menyampaikan aturan tersebut kepada anak yang sudah terbiasa menggunakan gawai.
Tidak sedikit anak yang menunjukkan reaksi emosional seperti ngambek hingga murung ketika penggunaan ponsel mulai dibatasi. Kondisi ini membuat orang tua harus mencari cara yang tepat agar aturan tetap berjalan tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.
Psikolog, Mimi Mulyati, S.Psi, menilai pembatasan penggunaan ponsel pada anak tidak bisa dilakukan secara drastis. Orang tua perlu menerapkan pendekatan bertahap agar anak dapat menyesuaikan diri dengan aturan baru.
“Sebagai orang tua memang tidak bisa langsung melarang secara drastis karena anak pasti akan menolak. Lebih baik dilakukan sedikit demi sedikit, misalnya membuat perjanjian bahwa anak hanya boleh menggunakan HP satu jam dalam sehari,” ujar Mimi Mulyati kepada RRI Rabu, 11 Maret 2026.
Ia menambahkan, orang tua dapat membuat kesepakatan berupa aturan, hukuman, dan hadiah agar anak belajar bertanggung jawab terhadap penggunaan gawai. Cara tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan melarang secara tiba-tiba.
“Jika anak melanggar aturan maka ada hukuman, dan jika bisa mematuhi aturan maka ada hadiah. Hukuman itu sebaiknya sesuatu yang membuat anak tidak suka sehingga dia memahami bahwa itu konsekuensi dari pelanggaran,” ucapnya.
Mimi juga menilai aturan pembatasan penggunaan gawai sebenarnya sudah lama disuarakan oleh berbagai pihak. Namun kebijakan tersebut baru diterapkan secara luas setelah muncul berbagai kekhawatiran terkait dampak negatif teknologi terhadap anak.
“Pembatasan penggunaan HP ini sebenarnya sudah lama disuarakan oleh orang tua, guru, maupun psikolog. Karena itu ketika aturan ini muncul, kita sebaiknya mendukung karena memang baik untuk perkembangan anak,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat membuka risiko serius bagi anak. Beberapa kasus bahkan berawal dari penggunaan ponsel yang tidak diawasi oleh orang tua.
“Bahkan ada kasus pornografi sampai penjualan anak yang awalnya terjadi dari penggunaan HP. Ada juga perilaku seksual menyimpang yang bermula dari paparan konten di ponsel,” ujarnya.
Mimi menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam memberikan edukasi tentang penggunaan media sosial. Menurutnya, pengawasan dan pembatasan waktu penggunaan gawai harus dilakukan secara konsisten di rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....