Psikolog Dukung Larangan Penggunaan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun

  • 11 Mar 2026 12:21 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Kebijakan pemerintah yang melarang anak di bawah usia 16 tahun memiliki akun media sosial di platform berisiko tinggi memunculkan berbagai respons dari masyarakat. Sejumlah orang tua bahkan mengaku mulai kesulitan ketika anak menunjukkan reaksi emosional saat penggunaan gawai mulai dibatasi.

Fenomena tersebut terlihat dari munculnya perilaku tantrum pada sebagian anak yang sudah terbiasa menggunakan media sosial setiap hari. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan baru bagi orang tua dalam mengatur penggunaan teknologi di rumah.

Psikolog, Mimi Mulyati, S.Psi, menilai kebijakan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun merupakan langkah yang tepat. Ia melihat penggunaan gawai pada usia dini saat ini sudah semakin mengkhawatirkan.

“Sebetulnya ini sudah jadi pengamatan saya, prihatin sekali karena anak-anak sekarang usia TK sampai SD sudah memegang HP. Biasanya mereka scroll TikTok atau bermain gim, yang pengaruhnya lebih banyak negatif dibandingkan positif karena usia mereka masih terlalu dini,” ujar Mimi Mulyati pada RRI Rabu, 11 Maret 2026.

Menurut Mimi, anak-anak pada usia tersebut masih berada dalam tahap perkembangan emosi yang belum stabil. Kondisi ini membuat mereka mudah terpengaruh oleh berbagai konten yang dilihat di media sosial.

“Bahkan remaja pun masih mudah dipengaruhi karena emosinya belum stabil, sehingga mereka bisa ikut-ikutan dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Karena itu ketika ada aturan pembatasan ini saya sangat setuju dan sangat mendukung,” katanya.

Ia menjelaskan, penggunaan media sosial secara bijak sebaiknya dilakukan ketika anak sudah memasuki fase remaja akhir. Pada usia tersebut, anak dinilai mulai memiliki tanggung jawab dan kemampuan mengontrol diri yang lebih baik.

“Kalau menurut saya, usia yang lebih siap itu remaja akhir seperti anak SMA sekitar 17 tahun ke atas, karena mereka sudah mulai memiliki tanggung jawab. Sedangkan di bawah 16 tahun masih termasuk usia remaja yang sangat labil,” ucapnya.

Mimi juga mengungkapkan dirinya sering menerima kasus anak yang mengalami kecanduan gawai. Ketergantungan tersebut membuat sebagian anak marah atau tantrum ketika orang tua mencoba membatasi penggunaan ponsel.

“Banyak kasus yang saya temui, anak sudah sangat tergantung dengan HP. Ketika orang tua melarang atau mengatur waktu penggunaan, mereka bisa tantrum atau ngamuk karena sudah kecanduan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....