Gerakan Pilah Sampah dari Rumah, Majalengka Perkuat Bank Sampah Desa

  • 20 Feb 2026 15:23 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka - Di tengah meningkatnya volume sampah yang terus menekan kapasitas tempat pembuangan akhir, Pemkab Majalengka memilih mengubah arah strategi, bukan lagi sekadar mengangkut dan membuang, tetapi menuntaskan pengelolaan sampah dari hulu, langsung dari rumah dan desa.

Langkah itu ditegaskan dalam rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang dibuka melalui gerakan GEBER JUMAT, sekaligus penguatan peran bank sampah sebagai motor perubahan perilaku masyarakat.

Bertempat di BSU Permata Palabuan, Kecamatan Sukahaji, Jumat 20 Februari 2026, pemerintah daerah mengukuhkan 26 Bank Sampah Unit (BSU) desa serta meluncurkan inovasi EMAS PKK (Emak-Emak Kelola Bank Sampah bareng PKK).

Momentum ini menjadi titik balik pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Desa-desa didorong tidak lagi bergantung pada pengangkutan menuju TPA, melainkan mampu mengurangi residu sejak dari sumbernya melalui sistem pemilahan dan pengelolaan mandiri berbasis bank sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, menegaskan bahwa HPSN bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan gerakan perubahan perilaku yang harus dimulai dari rumah tangga. Menurutnya, kunci utama pengelolaan sampah terletak pada pengurangan dan pemilahan sejak awal.

DLH Kabupaten Majalengka kini membentuk 26 Bank Sampah Unit yang tersebar di desa-desa sebagai ujung tombak pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Melalui pendampingan dan edukasi berkelanjutan, kami berharap sistem ini berjalan optimal dan berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif warga terhadap pentingnya memilah sampah organik dan anorganik," ujar Wawan Sarwanto.

Bupati Majalengka, H Eman Suherman, menegaskan bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan regulasi dan fasilitas, namun keberhasilan tetap bergantung pada kesadaran warga dalam mengurangi dan memilah sampah dari rumah.

Data menunjukkan tantangan yang dihadapi tidak ringan. Volume sampah di Kabupaten Majalengka diperkirakan mencapai sekitar 900 ton per hari, sementara yang mampu tertangani di TPA Heuleut baru sekitar 120 ton per hari.

"Ketimpangan ini menuntut strategi baru, yakni pengurangan residu dari sumbernya melalui penguatan bank sampah di setiap desa dan kelurahan," ungkap Bupati Eman Suherman.

Bupati juga mengajak ASN, perangkat desa, sekolah, hingga komunitas untuk terlibat aktif dalam gerakan kebersihan dan pengurangan sampah. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi fondasi utama mewujudkan lingkungan Majalengka yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Majalengka, Hj. Iim Maemunah, menilai peran ibu rumah tangga sangat strategis dalam membangun budaya pilah sampah di keluarga. Dari dapur, kebiasaan memisahkan sampah organik dan anorganik diyakini mampu menekan beban pengelolaan di hilir secara signifikan.

Melalui inovasi EMAS PKK, kader PKK di setiap desa diharapkan menjadi motor penggerak bank sampah sekaligus agen edukasi di tengah masyarakat. Edukasi berkelanjutan kepada ibu-ibu rumah tangga menjadi kunci agar kebiasaan memilah sampah tumbuh sebagai budaya baru, bukan sekadar program sesaat.

Dengan semangat GEBER JUMAT dan penguatan Bank Sampah Unit, Pemerintah Kabupaten Majalengka menegaskan arah baru pengelolaan sampah, dari sekadar dibuang menjadi dikelola hingga tuntas.

"Harapannya, residu yang masuk ke TPA dapat ditekan, sekaligus menciptakan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan penuh berkah bagi generasi mendatang," jelas Ketua TP-PKK Kabupaten Majalengka.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....