Ratusan Ikan Dewa Tewas, Evaluasi Dugaan Malpraktik Habitat
- 07 Feb 2026 16:40 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan – Kematian massal Ikan Dewa (Tor douronensis) di Balong Keramat Cigugur menandai krisis serius pada salah satu ikon ekologis dan kultural Kabupaten Kuningan. Peristiwa ini menjadi yang terburuk sepanjang ingatan warga, sekaligus memunculkan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan habitat yang selama ini berlangsung.
Kematian ikan mulai terpantau pada akhir Januari 2026. Awalnya, hanya beberapa ekor Ikan Dewa ditemukan mati.
Namun dalam beberapa hari, jumlahnya terus meningkat. Hingga Selasa, 3 Februari 2026, Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan mencatat sekitar 300 ekor ikan mati, hampir sepertiga dari total populasi yang diperkirakan mencapai 1.000 ekor.
Memasuki hari kesembilan pascakejadian, kondisi justru semakin memburuk. Di kolam pengungsian Cigugur, angka kematian melonjak tajam hingga mencapai sekitar 500 ekor dalam satu hari. Lonjakan ini menandai bahwa persoalan yang terjadi bersifat sistemik dan tidak dapat lagi dikaitkan semata-mata dengan faktor cuaca.

Kepala Bidang Perikanan Diskanak Kuningan, Denny Rianto, menjelaskan bahwa ikan-ikan yang tersisa berada dalam kondisi sangat rentan akibat serangan parasit cacing Lernaea.
“Parasit menyerang mulut, insang, hingga kulit. Rasa gatal yang hebat membuat ikan menggesekkan tubuhnya ke dinding kolam. Luka terbuka itu kemudian menjadi pintu masuk infeksi jamur dan bakteri,” kata Denny Sabtu 7 Februari 2026.
Namun menurutnya, serangan penyakit tersebut bukan penyebab utama, melainkan dampak dari lingkungan perairan yang sudah lama tidak sehat. Hasil evaluasi teknis Diskanak menunjukkan adanya persoalan mendasar pada sistem sirkulasi air Balong Cigugur.
“Selama puluhan tahun, pembuangan air hanya terjadi di lapisan atas. Air lapisan bawah yang mengandung endapan sisa metabolisme dan zat berbahaya tidak pernah terbuang dengan baik,” ujarnya.
Akumulasi endapan tersebut menciptakan lingkungan perairan yang rentan terhadap penyakit dan penurunan kualitas air secara bertahap.
Temuan lain terungkap saat tim melakukan pembedahan terhadap bangkai ikan. Saluran pencernaan ikan ditemukan kosong, disertai kondisi tubuh yang sangat kurus.
“Ikan-ikan ini seperti dalam kondisi kelaparan. Ketika dipicu oleh cuaca ekstrem dan kualitas air yang buruk, daya tahan tubuhnya langsung runtuh,” kata Denny, Sabtu, 7 Februari 2026.
Menurut Diskanak, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan nutrisi telah berlangsung lama, jauh sebelum kematian massal terjadi. Pola pemeliharaan selama ini dinilai belum sepenuhnya berbasis pendekatan ilmiah dalam menjaga kesehatan ikan.
Selain temuan teknis, warga Cigugur mencatat faktor lingkungan yang dinilai ikut memperburuk kondisi balong. Anes, pemuda setempat, mengungkapkan tumbangnya sebuah pohon beringin besar di sekitar balong yang batang dan akarnya bersentuhan langsung dengan air.

“Beringin itu dibiarkan lama, kurang lebih sepuluh bulan baru diangkat,” kata Anes. Selama berbulan-bulan, kayu beringin yang membusuk berada di dalam lingkungan perairan.
Secara ekologis, proses pembusukan kayu meningkatkan beban bahan organik dan menyerap oksigen terlarut di dalam air. “Kalau sirkulasi airnya lancar mungkin dampaknya kecil. Tapi kalau sirkulasinya sudah terganggu, efeknya bisa berlipat,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai berisiko tinggi bagi Ikan Dewa yang dikenal sangat sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan. Warga juga menyoroti perubahan struktur Balong Cigugur dalam beberapa tahun terakhir.
Kolam yang sebelumnya terbuka disekat menjadi beberapa petak permanen. Lubang-lubang alami di dasar kolam yang berfungsi sebagai jalur sirkulasi air ditutup semen, sementara saluran keluar air menyempit.
“Setahu kami tidak pernah ada kajian yang disampaikan ke publik. Tahu-tahu balong berubah,” kata Anes. Perubahan fisik tersebut berdampak langsung pada aliran air, distribusi oksigen, dan pembuangan endapan, yang dalam jangka panjang mempercepat degradasi habitat ikan.
Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Kuningan selaku pengelola mengakui perlunya pembenahan menyeluruh. Manajer Operasional PDAU, Rohman Sutadi, menyatakan pihaknya akan mengikuti rekomendasi teknis dari Diskanak.
“Ke depan, perbaikan nutrisi dan pemberian vitamin akan menjadi prioritas. Ikan Dewa harus diperlakukan secara medis dan ilmiah, tidak cukup hanya dengan pendekatan mitos,” ujarnya.
Saat ini, tim gabungan tengah melakukan pengurasan dan pengeringan kolam untuk memutus rantai penularan penyakit. Diskanak Kuningan bersama Dinas PUTR juga merencanakan pembongkaran sumur air bersih lama yang selama ini tertutup, dengan mendatangkan alat berat dalam satu hingga dua hari ke depan.
“Target kami empat sampai lima hari ke depan proses evakuasi dan pengobatan di kolam karantina selesai, sehingga populasi yang tersisa benar-benar bisa diselamatkan,” kata Denny.
Tragedi ini menjadi peringatan bahwa pelestarian ikon daerah tidak dapat hanya bertumpu pada simbol dan kepercayaan. Tanpa evaluasi menyeluruh, keterbukaan kebijakan, dan pengelolaan berbasis sains, keberlanjutan Ikan Dewa di Balong Cigugur berada dalam ancaman serius.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....