Algoritma Media Digital Mempengaruhi Dinamika Budaya
- 05 Feb 2026 16:26 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Perkembangan teknologi digital dinilai telah menggeser otoritas dalam menentukan nilai budaya dan estetika di masyarakat. Jika dahulu kurasi dilakukan oleh ahli dan sesepuh, kini algoritma media sosial berperan besar membentuk selera publik.
Pengkaji budaya Cirebon Abdul Roshidi M.Hum mengatakan, perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurutnya, perdebatan antara budaya adiluhung dan budaya populer sudah berlangsung jauh sebelum era algoritma.
“Dulu ada kurator dan ahli yang memilih kesenian, sekarang hampir tidak ada proses kuratorial terutama di media sosial,” ucap Abdul Roshidi kepada RRI Kamis, 5 Februari 2026
Roshidi menjelaskan, pergeseran ini merupakan bagian dari dinamika estetika, bukan semata soal benar atau salah. Ia menambahkan, budaya adiluhung juga tidak selalu bisa dijadikan satu-satunya patokan ideal atau otentik.
Dalam konteks seni tradisi di Cirebon, Roshidi membagi dua fungsi utama kesenian yang masih bertahan. “Ada seni yang masih menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat dan ada seni yang tujuannya hiburan,” ujarnya.
Ia menilai porsi seni yang bersifat sakral terus mengalami penurunan, sementara seni hiburan semakin dominan. Kondisi tersebut membuat pasar dan selera masyarakat menjadi faktor penentu utama arah perkembangan seni.
Fenomena pemendekan durasi tari tradisional seperti topeng dan sintren demi kebutuhan konten media sosial juga dinilai sebagai bentuk adaptasi. “Sebagai media pengenalan awal itu bagus, tapi untuk memahami filosofi tentu harus lebih mendalam,” kata Roshidi.
Menurutnya, konten singkat tidak bisa sepenuhnya menyampaikan makna dan nilai filosofis budaya. Pemahaman utuh, kata dia, hanya dapat diperoleh melalui keterlibatan langsung dalam pertunjukan dan proses kebudayaan yang lebih panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....