Kolam Karantina, Langkah Penyelamatan Ikan Dewa Cigugur
- 05 Feb 2026 10:10 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan — Balong Keramat Cigugur yang selama ini dikenal sebagai habitat ikan dewa kini menghadapi situasi tak biasa. Ratusan ikan yang dikeramatkan masyarakat itu ditemukan mati dalam sepekan terakhir, memicu perhatian serius pemerintah daerah.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar turun langsung mengoordinasikan penanganan bersama sejumlah instansi. Ia menegaskan, setiap langkah harus berbasis data agar pemulihan ekosistem kolam tidak keliru.
“Kita tidak ingin berspekulasi. Semua harus terukur dan ada tindak lanjut nyata,” ujar Dian dalam rapat koordinasi lintas perangkat daerah, Rabu 4 Februari 2026.
Sejak kematian ikan mulai terpantau 29 Januari lalu, jumlahnya terus bertambah. Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan mencatat sedikitnya 305 ekor ikan mati hingga hari ketujuh.
Kepala Diskanak Kuningan, A. Taufik Rohman, menyebut ikan yang terdampak menunjukkan tanda gangguan kesehatan. “Ikan terlihat pasif, insangnya pucat, ada luka di tubuh, bahkan sisiknya mudah lepas,” katanya.
Tim teknis juga menemukan serangan parasit cacing jangkar di bagian tubuh ikan. Kondisi tersebut memperkuat dugaan adanya gangguan kesehatan yang dipicu kualitas lingkungan kolam.
Upaya darurat pun dilakukan. Ikan mati segera diangkat, ikan bergejala sakit diisolasi, sementara kualitas air distabilkan melalui pergantian bertahap dan penyesuaian tingkat keasaman. Sirkulasi air dibantu dengan pompa untuk meningkatkan kadar oksigen.
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Barat kini memeriksa sampel ikan di laboratorium. Hasil uji diharapkan memberi gambaran pasti penyebab kematian massal tersebut.
“Pengobatan di kolam besar kurang efektif, sehingga perlu kolam darurat untuk isolasi,” kata perwakilan balai karantina, Hari.
Di tengah upaya teknis itu, suara masyarakat Cigugur juga menguat. Warga menilai perubahan fisik kolam turut berpengaruh pada kondisi ikan dewa. Pendangkalan dan tertutupnya aliran air disebut mengganggu keseimbangan alami kolam.
Ketua LPM Cigugur, Aang, berharap pemulihan dilakukan dengan mengembalikan fungsi alami Balong Keramat. “Kolam ini bagian dari warisan budaya. Kami ingin tetap lestari,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....