KTH Sapu Jagat Perkuat Konservasi Gunung Ciremai

  • 03 Feb 2026 18:39 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Kesadaran bahwa hutan merupakan sumber kehidupan mendorong Kelompok Tani Hutan (KTH) Sapu Jagat, Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, membangun pusat persemaian mandiri. Langkah ini dilakukan sebagai upaya nyata masyarakat sekitar hutan dalam menjaga kelestarian ekosistem Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Di bawah naungan Paguyuban Silihwangi Majakuning, KTH Sapu Jagat berhasil mengembangkan ratusan jenis bibit tanaman endemik dan tanaman buah. Persemaian tersebut menjadi salah satu pilar konservasi berbasis masyarakat, khususnya dalam menjaga keberlanjutan sumber air, oksigen, dan keseimbangan alam di kawasan Gunung Ciremai.

Ketua KTH Sapu Jagat, Jafar, mengatakan inisiatif persemaian lahir dari kepedulian warga pinggir hutan yang merasakan langsung dampak kerusakan lingkungan. Menurutnya, menjaga kelestarian hutan tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah.

“Bagi saya, gunung itu kehidupan. Sangat vital, terutama air. Kalau tidak kita jaga dan rawat oleh masyarakat sekitar, apa yang terjadi? Baik buruknya hutan, masyarakat sekitar yang merasakan. Maka kami peduli, hutan adalah kehidupan kami,” ujar Jafar saat ditemui di lokasi persemaian, Desa Setianegara, Selasa 3 Februari 2026.

Persemaian yang berada tidak jauh dari kawasan Lembah Bosir tersebut tidak hanya memproduksi tanaman kayu keras, tetapi juga Multi Purpose Tree Species (MPTS) atau tanaman serbaguna. Jenis tanaman MPTS seperti nangka, pete, jengkol, sirsak, hingga sawo dipilih sebagai sumber pakan alami satwa liar di dalam kawasan hutan.

Menurut Jafar, langkah tersebut juga menjadi solusi mitigasi konflik antara satwa dan masyarakat. Dengan tersedianya pakan di dalam kawasan, satwa diharapkan tidak lagi turun ke lahan pertanian warga.

“Kenapa MPTS? Karena di hutan kita kurang buah-buahan. Kalau tidak ada pakan, satwa seperti monyet akan menyerang tanah milik warga. Jadi solusinya, di dalam kawasan kita tanami buah-buahan untuk persiapan makan mereka,” jelasnya.

Saat ini, persemaian Desa Setianegara juga berfungsi sebagai sentra indukan bagi kelompok tani hutan lainnya. Beragam bibit endemik asli Gunung Ciremai tersedia, di antaranya Solatri, Peuteag, Picung, Benda, Salam, Kiteja, Huru Madam, serta berbagai jenis tanaman konservasi lainnya.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar, menambahkan bahwa kegiatan pembibitan tersebut telah dimulai sejak akhir 2023. Hingga kini, hampir 200 jenis bibit berhasil dikembangkan, termasuk jenis pinus untuk mendukung fungsi konservasi kawasan.

“Di Setianegara ini kebetulan persemaian induk. Pihak TNGC juga sering meminta bibit ke sini kalau stok mereka kosong. Alhamdulillah, persemaian kita sudah menyebar ke tiap KTH,” ungkap Nandar.

Manfaat persemaian mandiri KTH Sapu Jagat juga dirasakan oleh desa-desa lain di sekitar kawasan Gunung Ciremai. Pemerintah Desa Cikondang menjadi salah satu penerima bibit untuk mendukung kegiatan pelestarian lingkungan dan revitalisasi mata air. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....