Peternak Sapi di Kabupaten Cirebon Minta Pemkab Serius Tangani PMK

  • 15 Jan 2025 22:35 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Merebaknya kembali wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) membuat resah dan takut para peternak maupun pedagang sapi dan kambing di sejumlah wilayah termasuk di Kabupaten Cirebon.

Salah satu Peternak Sapi dan Kambing di Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber, Munarin mengatakan pernah mencoba belanja satu ekor sapi dari Bumiayu Jawa Tengah di pertengahan Desember 2024.

"Pasar hewan di Jawa Tengah yang terdekat itu di Bumiayu, Radudongkal, Kanjen. Nah sapi-sapi tersebut itu kan dari Tuban, Jawa Timur," ujarnya kepada rri.co.id, Rabu (15/1/2025).

Dirinya memperkirakan dalam prosesnya, sapi-sapi itu sebelum sampai ditangan para peternak dan pedagang hewan ternak, lebih dulu berpindah-pindah dari satu tempat ke pasar lainnya. Saling bersentuhan antara hewan yang sehat dengan yang terkena virus. Sehingga penyebaran virusnya semakin cepat.

Namun sapi tersebut mengalami demam, yang mana biasa dalam tiga hari sudah sembuh tapi sampai dengan 21 hari belum sembuh kembali dan tidak bangun, sehingga akhirnya terpaksa dipotong dan dijual.

"Biasanya saya tuh ada sapi sakit ya bisa ditangani sampai sembuh. Nah sekarang tidak sembuh ya berarti ngga milik," ucapnya.

Atas kejadian yang dialaminya, Munarin mengimbau para peternak dan pedagang lainnya untuk tidak melakukan pembelanjaan sapi terlebih dahulu.

Apalagi beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pemasok hewan ternak sapi sudah dilakukan penutupan. Dirinya mengaku bila gejala penyakit yang dialami sapi tersebut berbeda dengan PMK.

"Kalau PMK kan nampak ya, sapi itu ngeces air liurnya, terus kukunya nyoplok (Red: terkelupas). Kalau ini sih lemes, bangunnya susah tapi kok makan tetep doyan. Tapi kayaknya nafsu makannya kurang tinggi, asal makan sajas sudah dan kalau tidak disuapin ya ngga makan," katanya.

Munarin sempat heran memperhatikan perkembangan penyakit pada hewan ternak sapi yang cenderung aneh. Saat penanganan oleh dokter hewan yang berkunjung, ia disarankan untuk tidak saja menggunakan pengobatan medis tetapi juga obat herbal atau tradisional seperti pemberian telur, kunyit dan lainnya.

"Saya sudah berupaya semaksimal mungkin tapi belum ada hasilnya jadi ya saya anggap ini berarti saya ngga mampu. Ya sudahlah," ucapnya.

Namun demikian diharapkan Munarin, Pemerintah Kabupaten Cirebon serius dalam menangani laporan dari para peternak bila ternaknya sakit dan kemudian mestinya dikontrol kembali oleh petugas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....