Sejarah Ketupat dan Awal Mula Tradisi Makan Enak saat Lebaran

  • 20 Mar 2026 07:30 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, keputusan tersebut berdasarkan Sidang Isbat yang telah digelar oleh Kementrian Agama pada Kamis, 19 Maret 2026 kemarin. Bagi umat muslim di Indonesia, menyiapkan dan menyajikan makanan khas lebaran adalah salah satu keharusan.

Namun tahukah anda, sejak kapan menyiapkan dan menyajikan makanan istimewa pada hari raya menjadi keharusan bahkan tradisi? Apa alasan di balik tradisi makan makanan enak di hari raya? Berikut adalah sedikit penjelasannya untuk anda.

Diantara semua pilihan mena olahan daging, ayam hingga telur yang disajikan pada saat hari raya, mayoritas masyarakat Indonesia akan memadukannya dengan ketupat. Meski terbiasa makan nasi, namun khusus hari raya, masyarakat Indonesia telah identik dengan ketupat.

Cikal bakal tradisi makan makanan enak di hari raya memang bermula dari ketupat yang menurut Hermanus Johannes de Graaf, sejarawan Belanda yang mengkhususkan diri menulis sejarah Jawa, dalam karya tulisnya Malay Annual mengatakan, ketupat yang terbuat dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda itu pertama kali muncul di Tanah Jawa sejak abad ke-15.

Tepatnya pada masa pemerintahan Kerajaan Demak, dan Sunan Kalijaga adalah sosok yang memperkenalkan ketupat pertama kali bersamaan dengan usahanya menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa dalam setiap dakwahnya. Karena dalam penyebaran agama islam, Sunan Kalijaga melakukan banyak pendekatan ke masyarakat, termasuk pendekatan budaya.

Kemudian, tradisi makan enak ini muncul setelah ketupat berhasil mendapatkan tempatnya. Sedangkan tradisi makan ini sendiri merupakan hasil perpaduan budaya lokal dengan nilai Islam. Hidangan bersantan seperti opor dan gulai mulai populer sebagai pendamping ketupat karena dianggap mewah dan cocok untuk merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Makanan-makanan istimewa seperti olahan daging, opor hingga rendang disajikan bukan sekadar untuk mengenyangkan, tetapi sebagai simbol atas rasa syukur dan bentuk berbagi kebahagiaan kepada keluarga hingga tetangga terdekat kita. Kebiasaan menyajikan makanan istimewa ini sudah mengakar selama ratusan tahun, berakar dari tradisi Jawa yang kemudian diislamkan, lalu menyebar ke seluruh Nusantara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....