Mengenal Elongasi Hilal dan Kriteria MABIMS

  • 20 Mar 2026 06:18 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID , Cirebon - Menjelang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, istilah elongasi hilal kerap muncul dalam pembahasan sidang isbat. Parameter ini menjadi salah satu acuan penting dalam menentukan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Mengacu pada penjelasan situs BMKG, Elongasi adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari untuk pengamat di permukaan Bumi. Semakin besar nilai elongasi, maka peluang hilal untuk terlihat akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika elongasi masih kecil, posisi Bulan terlalu dekat dengan Matahari sehingga sulit diamati oleh pengamat di Bumi.

Dalam praktiknya, elongasi menjadi bagian dari kriteria imkanur rukyat yang digunakan pemerintah. Kriteria ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga merupakan hasil kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). MABIMS menetapkan beberapa syarat agar hilal dinyatakan mungkin terlihat, yakni ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Selain itu, umur bulan sejak ijtimak juga menjadi pertimbangan dalam mendukung visibilitas hilal.

Dalam sejumlah rilis resmi pemerintah daerah dan kantor wilayah Kemenag, disebutkan bahwa hilal dengan elongasi di bawah batas tersebut hampir tidak mungkin terlihat, meskipun secara posisi sudah berada di atas ufuk. Hal ini disebabkan cahaya Bulan yang masih sangat tipis kalah terang dibandingkan cahaya Matahari saat senja.

Penentuan awal bulan Hijriah sendiri tidak hanya mengandalkan satu parameter. Pemerintah mengombinasikan data hisab atau perhitungan astronomi dengan hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Melalui mekanisme tersebut, pemerintah berupaya memastikan bahwa penetapan awal bulan Hijriah dilakukan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Sidang isbat kemudian menjadi forum akhir untuk menetapkan keputusan yang akan diikuti oleh masyarakat luas.

Dengan demikian, elongasi hilal bukan sekadar istilah astronomi, melainkan bagian penting dari sistem penentuan waktu ibadah umat Islam yang menggabungkan pendekatan sains dan observasi langsung di lapangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....