Menelusuri Jejak Sejarah dan Asal Usul Kue Lebaran

  • 15 Mar 2026 14:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Tradisi menyajikan kue kering saat Idul Fitri ternyata memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan menarik. Kudapan manis ini mulai dikenal luas oleh masyarakat nusantara sejak masa kolonialisme Belanda melanda tanah air.

Kue-kue populer seperti nastar dan kastengel merupakan hasil adaptasi dari resep kue tradisional asal Eropa. Warga lokal kemudian memodifikasi bahan-bahannya menggunakan sumber daya alam yang tersedia melimpah di wilayah Indonesia.

Dahulu, masyarakat pribumi lebih akrab dengan kudapan basah yang terbuat dari bahan dasar tepung beras. Kehadiran oven dan teknik memanggang dari Barat mengubah peta kuliner hari raya secara signifikan.

Penggunaan keju dan mentega kualitas tinggi menjadi simbol kemewahan bagi keluarga yang menyajikannya di meja tamu. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial tertentu.

Proses pembuatan kue Lebaran juga mengandung nilai filosofis tentang kebersamaan dan gotong royong antar anggota keluarga. Momen membuat kue bersama di dapur menjadi ritual tahunan yang mempererat tali silaturahmi sebelum hari kemenangan.

Kini, variasi kue Lebaran semakin berkembang pesat dengan munculnya rasa modern seperti red velvet atau matcha. Meski inovasi terus bermunculan, eksistensi kue klasik tetap tak tergantikan sebagai ikon utama perayaan Idul Fitri.

Menjaga tradisi ini bukan sekadar soal rasa, melainkan cara menghargai sejarah kuliner yang telah diwariskan. Kehadiran stoples-stoples kue di ruang tamu selalu berhasil menghidupkan suasana hangat saat berkumpul bersama kerabat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....