Atasi Defisit Gori, Gunungkidul Kembangkan Hutan Nangka

  • 05 Okt 2026 21:03 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon — Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY memperkuat ketahanan pangan masyarakat desa melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka. Program tersebut dilaksanakan di kawasan Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.

Kegiatan itu ditandai dengan panen raya dan penanaman lanjutan pohon nangka pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Pengembangan kawasan hutan seluas 87 hektare tersebut diarahkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta.

Kebutuhan nangka muda untuk industri kuliner gudeg di Yogyakarta saat ini diperkirakan mencapai sekitar sembilan ton per hari. Namun, produksi lokal dari wilayah DIY baru mampu memenuhi sekitar dua ton per hari.

Kondisi tersebut menyebabkan defisit sekitar tujuh ton nangka muda yang selama ini harus dipenuhi dari luar daerah. Optimalisasi kawasan hutan di Gunungkidul diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan bahan baku secara mandiri.

Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan keterlibatan Pertamina melalui Pertamina Foundation merupakan bentuk kepedulian dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional. "Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah," ujar Nanik di sela-sela kegiatan panen dan penanaman pohon nangka.

Pengembangan kawasan hutan pangan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pengelolaannya secara langsung melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.

Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengapresiasi dukungan berkelanjutan yang diberikan kepada masyarakat setempat. Menurutnya, kelompok tani telah melakukan sedikitnya tiga kali panen dan berharap pendampingan kapasitas SDM terus berlanjut.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berkelanjutan. "Melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mulai dari kedaulatan pangan hingga pelestarian ekosistem," ucap Arya.

Untuk memperkuat keberlanjutan pertanian di lahan karst Gunungkidul yang cenderung kering pada musim kemarau, program ini dikembangkan melalui sistem tumpangsari. Selain itu, kawasan ini didukung pengairan berbasis energi bersih untuk menjaga ketersediaan air.

Dalam jangka panjang, kawasan ini tidak hanya diarahkan menjadi lumbung pangan dan sumber bahan baku kuliner lokal. Kawasan hutan pangan tersebut juga diproyeksikan untuk dikembangkan menuju kawasan eduwisata.

President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, menegaskan keberhasilan pengelolaan hutan diukur dari keberlanjutan dampak bagi masyarakat dan lingkungan. "Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan," ujar Agus.

Sementara Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menambahkan hilirisasi produk pangan berbasis potensi lokal menjadi kunci memperkuat ekonomi desa. "Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan," kata Erry.

Sebagai bentuk penguatan dukungan bagi petani, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga untuk mobilitas hasil panen. Selain itu, diserahkan pula 20 paket bantuan pendidikan SESAMA bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan tradisi Kembul Bujono, yakni makan bersama menikmati olahan nangka buatan masyarakat lokal. Acara tersebut diiringi alunan musik tradisional Rinding Gumbeng khas Gunungkidul sebagai ungkapan syukur.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat tani ini diharapkan terus berkembang secara konsisten. Keberadaan Hutan Wanaboga Nangka diproyeksikan menjadi model pengelolaan hutan pangan berkelanjutan di lahan kering.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....