Sapi Pasundan Kuningan, Daging Lokal yang Disebut Mirip Wagyu Jepang

  • 29 Sep 2026 18:41 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Sapi Pasundan di Kabupaten Kuningan memiliki kualitas daging yang hampir menyerupai Wagyu Jepang premium, menjadikannya ternak unggulan lokal.
  • Keunggulan daging Sapi Pasundan bukan terletak pada ukuran tubuh atau laju pertumbuhan, melainkan pada karakter daging yang terbentuk dari pola pemeliharaan dan pakan alami.
  • Jawa Barat memiliki cerita dan potensi tersendiri dalam menghasilkan daging sapi berkualitas premium yang dapat bersaing dengan Wagyu Jepang di pasar internasional.

RRI.CO.ID, Kuningan - Wagyu identik dengan Jepang. Nama itu sudah lama melekat pada daging sapi premium dengan karakter serat dan kualitas yang membuatnya berada di kelas berbeda. Namun, Jawa Barat memiliki cerita sendiri.

Di Kabupaten Kuningan, ada Sapi Pasundan yang disebut memiliki kualitas daging hampir menyerupai Wagyu Jepang. Bukan karena tubuhnya besar atau pertumbuhannya cepat, melainkan karena karakter daging yang terbentuk dari pola pemeliharaan dan pakan alaminya.

Sapi Pasundan juga bukan sekadar sapi lokal biasa. Hewan ternak ini telah memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) dan menjadi salah satu kekayaan genetik sekaligus identitas peternakan Jawa Barat.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, drh. Rofiq, menjelaskan, sejarah Sapi Pasundan bermula dari kawasan Rancah, Ciamis, pada era kolonial.

Seiring waktu, sapi tersebut kemudian dikukuhkan dengan nama Sapi Pasundan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas ternak lokal Jawa Barat. “Kalau secara sejarah, awalnya dari Rancah, Ciamis. Kemudian untuk memperkuat identitas kedaerahan di Jawa Barat, namanya dikukuhkan menjadi Sapi Pasundan,” kata Rofiq, Selasa 29 September 2026.

Secara fisik, Sapi Pasundan memang tidak bisa disandingkan dengan sapi ras Eropa dari sisi ukuran. Bobot maksimalnya umumnya berada di kisaran 300 kilogram. Tetapi justru di sinilah keunikannya. Nilai Sapi Pasundan tidak semata-mata berada pada seberapa besar tubuhnya, melainkan pada apa yang dihasilkan.

Rofiq mengatakan Sapi Pasundan dipelihara dengan pola semi-intensif dan banyak mengonsumsi pakan alami dari alam. Pola tersebut dinilai turut membentuk karakter dagingnya.“Kalau diibaratkan, Sapi Pasundan ini ayam kampungnya sapi. Karena pola pemeliharaannya semi-intensif dan mengonsumsi pakan alami dari alam, kualitas dagingnya sangat istimewa,” ujarnya.

Perumpamaan ayam kampungnya sapi itu kemudian membawa pada satu nama yang jauh lebih populer di pasar daging premium Wagyu. Menurut Rofiq, berdasarkan informasi dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serat dan kualitas daging Sapi Pasundan hampir menyerupai daging Wagyu dari Jepang.“Serat dan kualitas daging Sapi Pasundan hampir menyerupai daging Wagyu dari Jepang,” katanya. Jika demikian, persoalannya tinggal bagaimana kualitas tersebut diterjemahkan menjadi nilai ekonomi bagi peternak.

Sebab, Sapi Pasundan memiliki tantangan tersendiri. Pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan sejumlah sapi ras impor. Dalam hitungan bisnis peternakan, kondisi itu membutuhkan kesabaran lebih panjang sebelum sapi siap dipasarkan.

Karena itu, Rofiq menilai harga Sapi Pasundan tidak semestinya dipukul rata dengan daging sapi biasa. “Karena kualitasnya setara Wagyu, harganya tidak boleh disamakan dengan daging sapi biasa,” katanya.

Pasar hotel dan restoran dinilai dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan daging Sapi Pasundan sebagai produk lokal kelas premium. Salah satunya melalui sajian steak.“Ke depan, ini yang terus didorong agar daging Sapi Pasundan bisa masuk ke hotel dan restoran dengan harga khusus kelas premium, misalnya untuk sajian steak,” ujar Rofiq.

Dengan karakter tersebut, Sapi Pasundan memiliki jalur yang berbeda dari sapi ras impor. Ia tidak harus menang dalam ukuran tubuh atau kecepatan pertumbuhan.

Keunggulannya justru berada pada identitas genetik, pola pemeliharaan alami, dan kualitas daging yang disebut mendekati Wagyu.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, mempertahankan Sapi Pasundan berarti menjaga lebih dari sekadar seekor sapi lokal. Ada sejarah peternakan Jawa Barat, plasma nutfah, dan potensi kuliner premium yang ikut dipertaruhkan. Dan jika suatu hari potongan daging Sapi Pasundan benar-benar hadir di meja restoran premium, mungkin bukan lagi soal dari mana sapi itu berasal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....