Dari 4 Menjadi 600, Kisah Curik Bali Keluar dari Ujung Kepunahan

  • 31 Agt 2026 21:53 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Burung endemik Indonesia dengan bulu putih, jambul biru, dan lingkar mata biru itu pernah berada di titik paling kritis dalam perjalanan hidupnya. Kepunahannya bukan lagi sekadar ancaman, tetapi nyaris menjadi kenyataan.

Empat ekor hanya sebanyak itu populasi curik bali yang tersisa di kawasan Bali Barat pada 2004. Namun, lebih dari dua dekade kemudian, kisah itu perlahan berubah.

Populasi curik bali di kawasan Bali Barat kini telah menembus lebih dari 600 individu. Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana konservasi yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak dapat mengubah nasib satwa yang hampir hilang dari habitat alaminya.

Kisah keberhasilan itu disampaikan Pendiri Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi), Tony Sumampau, saat ditemui di Taman Safari Bogor kepada RRI pada Senin 21 Agustus 2026, lalu.

Tony mengatakan, salah satu langkah penting dalam upaya penyelamatan curik bali dilakukan melalui pembentukan Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) yang diinisiasi Foksi.

Forum tersebut kemudian mempertemukan dan merangkul berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan curik bali, termasuk Yokohama Research Center.

Upaya penangkaran dan konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan akhirnya menunjukkan hasil. Populasi yang sebelumnya tinggal hitungan jari perlahan bertambah.

"Semula pada 2004, populasi curik bali di Bali Barat tidak lebih dari empat individu. Setelah Foksi merangkul berbagai pihak, salah satunya Yokohama Research Center, jumlahnya terus meningkat," ujar Tony.

Perjalanan dari empat individu menjadi lebih dari 600 individu tidak berlangsung dalam waktu singkat. Dibutuhkan konsistensi, kolaborasi dan upaya konservasi yang dilakukan lintas pihak selama bertahun-tahun.

Bagi Tony, keberhasilan tersebut bahkan telah mendapat perhatian di luar Indonesia. "Keberhasilan kita lumayan sangat dikenal. Bukan cuma di Indonesia saja, tetapi juga di luar negeri. Hanya, pemerintah kita belum mempercayai. Orang-orang kita yang bekerja belum dikasih penghargaan," katanya.

Kisah curik bali memang membawa kabar baik. Namun, bagi Tony, keberhasilan tersebut tidak berarti persoalan konservasi satwa liar telah selesai.

Ancaman terhadap satwa liar masih ditemukan di berbagai daerah. Salah satunya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat memelihara burung berkicau di rumah.

Menurut Tony, kegemaran memelihara burung perlu dibarengi kesadaran terhadap asal-usul satwa dan dampaknya terhadap populasi di alam. Jika permintaan terhadap burung terus tinggi tanpa memperhatikan aspek konservasi, tekanan terhadap populasi liar dapat semakin besar.

Persoalan lain adalah masih rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai pentingnya menjaga satwa liar.

Tony mencontohkan kasus tapir yang dibunuh dan kemudian dikonsumsi masyarakat. Kasus serupa juga terjadi pada harimau sumatera yang mati setelah terjerat.

"Kita merasa masyarakat belum begitu paham tentang suatu hal yang begitu penting untuk dilestarikan. Kita lihat tapir yang akhirnya juga dibunuh dan dimakan. Harimau sumatera yang terjerat dan mati," tuturnya.

Ancaman tersebut kembali terlihat dalam kasus macan kumbang yang ditemukan dalam kondisi terjerat. Satwa itu mengalami patah kaki dan berada dalam kondisi sangat lemah.

Upaya penyelamatan akhirnya tidak membuahkan hasil.

"Terakhir macan kumbang terjerat dan kakinya patah juga akhirnya mati tidak tertolong karena kondisinya sangat lemah," ujar Tony.

Presiden Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menilai persoalan tersebut menunjukkan pentingnya peran organisasi konservasi seperti Foksi.

Menurutnya, Foksi perlu terus mengambil bagian dalam menghadapi berbagai persoalan satwa liar di Indonesia. Peran tersebut tidak sebatas menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga harus diperkuat sebagai bagian dari edukasi konservasi kepada masyarakat.

Foksi berdiri sejak 1998 sebagai wadah bagi berbagai pihak untuk bertukar pendapat sekaligus mencari solusi terhadap persoalan keberlangsungan hidup satwa liar, terutama satwa endemik Indonesia.

Peran tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar.

Berdasarkan studi Eko Setiawan yang dipublikasikan dalam Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial pada 2022, kekayaan biodiversitas terestrial Indonesia merupakan yang tertinggi kedua setelah Brasil.

Indonesia disebut memiliki sekitar 300.000 jenis spesies satwa atau sekitar 17 persen dari jumlah satwa di dunia. Kekayaan tersebut juga tercermin dari keberadaan sekitar 1.539 jenis burung.

Di tengah kekayaan itu, curik bali menjadi salah satu cerita penting tentang betapa rapuhnya keberadaan satwa endemik ketika populasinya terus tertekan.

Dari empat individu pada 2004 hingga lebih dari 600 individu saat ini, perjalanan curik bali menunjukkan bahwa kepunahan bukan selalu akhir dari sebuah cerita.

Ada ruang untuk menyelamatkan, memulihkan dan mengembalikan satwa ke alam. Namun, keberhasilan itu hanya akan bertahan jika konservasi tidak berhenti ketika angka populasi mulai meningkat.

Sebab, menjaga satwa liar bukan hanya soal menghitung berapa banyak yang berhasil diselamatkan, tetapi juga memastikan habitatnya tetap tersedia dan manusia belajar hidup berdampingan dengan satwa di alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....