Hari Anak Merdeka 2026, Kemendikdasmen Angkat Pesan Kerukunan dari Cigugur
- 22 Agt 2026 21:38 WIB
- Cirebon
Poin Utama
- Kemendikdasmen memilih Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebagai lokasi perayaan Hari Anak Merdeka 2026.
- Pemilihan lokasi didasarkan pada nilai historis Cigugur sebagai ruang harmoni keberagaman yang mencerminkan Indonesia majemuk.
- Perayaan ini mengangkat pesan kerukunan sebagai tema utama dalam merayakan kemerdekaan anak Indonesia.
RRI.CO.ID, Kuningan - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memilih Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebagai lokasi perayaan Hari Anak Merdeka 2026. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai historis sebagai ruang harmoni keberagaman dan mencerminkan kehidupan Indonesia yang majemuk.
Perayaan Hari Anak Merdeka 2026 berlangsung di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, dengan mengusung tema Rukun Sama Teman, Merdeka Bermain, Merdeka Bertumbuh, Merdeka Bermimpi.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kampanye Gerakan Rukun Sama Teman yang digagas Kemendikdasmen melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengatakan keberagaman perlu dipahami sebagai fakta sekaligus anugerah. Menurutnya, kebiasaan hidup rukun sejak usia sekolah menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Tidak ada anak-anak yang bodoh. Tidak ada. Hanya berbeda bentuknya. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Karena itu, tugas sekolah bukan menyeragamkan anak, melainkan mengembangkan kecerdasan yang sudah mereka miliki. Semuanya pintar,” ujar Atip, Sabtu 22 Agustus 2026.
Atip juga berinteraksi langsung dengan anak-anak yang mengikuti kegiatan. Ia berdialog mengenai minat, kemampuan, hingga cita-cita mereka.
Ketua III Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Chandra Setiawan, mengatakan keberagaman tidak hanya berkaitan dengan agama, budaya dan identitas. Menurutnya, anak-anak juga memiliki perbedaan dalam hal kecerdasan, bakat dan cara mengekspresikan diri.
“Hari Anak Merdeka di Cigugur dirancang bukan sebagai kompetisi yang menghasilkan juara dan pecundang, tetapi sebagai ruang ekspresi dan perjumpaan lintas perbedaan,” kata Chandra.
Ia menilai pendidikan tentang kerukunan perlu dibangun melalui pengalaman sehari-hari, termasuk bermain, belajar dan berkarya bersama.
“Anak adalah juara dengan caranya masing-masing. Keberagaman bukan hanya soal agama, budaya dan identitas. Anak-anak juga memiliki keberagaman kecerdasan, bakat dan cara berekspresi,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti 502 pelajar dan 94 pendamping dari 35 sekolah. Anak-anak tidak ditempatkan hanya sebagai peserta atau penonton, tetapi terlibat sebagai pelaku utama dalam rangkaian kegiatan.
Mereka menyambut tamu, memimpin kegiatan, mengikuti doa lintas iman, berolahraga, memainkan musik, menari, mengikuti flashmob, hingga menampilkan berbagai karya.
Kegiatan dibuka dengan Tarian Pangbage dari Sanggar Keris Paramenak yang dibawakan anak-anak. Rangkaian acara juga diisi doa lintas iman, mengheningkan cipta, serta doa bersama untuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti agar mendapat jalan pemulihan terbaik. Doa juga disampaikan bagi korban gempa di Nusa Tenggara Timur.
Ketua Panitia Hari Anak Merdeka 2026, Susilowati, mengatakan sejak awal panitia memberikan ruang lebih besar kepada anak untuk terlibat secara langsung.
“Mereka berlatih selama berminggu-minggu untuk menghafalkan Ikrar Pelajar Indonesia, mempersiapkan Senam Anak Indonesia Hebat, berlatih Flashmob ‘Rukun Sama Teman’, membuat instrumen angklung, hingga menyiapkan berbagai karya dan pertunjukan. Hari ini adalah hari kalian,” kata Susilowati.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan anak bukan hanya penerus pembangunan, tetapi pemilik masa depan. Karena itu, pembangunan daerah menurutnya harus memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman, bahagia, berkarakter dan berbudaya.
Kegiatan tersebut turut melibatkan komunitas adat AKUR Sunda Wiwitan. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat pesan mengenai persahabatan, keberagaman dan gotong royong yang menjadi semangat Gerakan Rukun Sama Teman.
Gerakan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dengan menjadikan persahabatan dan gotong royong sebagai bagian dari kehidupan anak di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Hari Anak Merdeka 2026 di Cigugur digagas ICRP bersama Yayasan Tri Mulya Triwikrama. Kegiatan mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya Kino Indonesia, Kapal Api Group, Garudafood, Tanoto Foundation dan Artha Graha Peduli.
Dukungan juga datang dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Masyarakat AKUR Sunda Wiwitan serta Majelis Nasional Baha’i Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....