Deforestasi Makin Masif, Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Makin Menurun

  • 13 Agt 2026 13:39 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID , Cirebon - Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) terus mengalami penurunan berdasarkan hasil survei terbaru periode 2021–2023. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan jumlahnya diperkirakan tersisa 11.694 individu, turun dibandingkan sekitar 13.846 individu pada 2011.

Survey yang merupakan bagian dari Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) ini juga menyoroti kondisi kritis orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang diperkirakan kini hanya tersisa 716 individu di Ekosistem Batang Toru. Dari total populasi orangutan Sumatera yang tersisa, sekitar 84 persen di antaranya hidup dan menggantungkan kelangsungan hidupnya pada Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh dan Sumatera Utara.

Padahal orangutan Sumatra dan orangutan Tapanuli adalah satwa endemik asli Indonesia yang dilindungi. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dalam Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan di Medan, Sumatera Utara Sabtu, 18 Juli 2026 mengatakan perlunya perhatian serius terkait masalah tersebut.

"Orangutan Sumatra dan orangutan Tapanuli merupakan satwa endemik kebanggaan bangsa Indonesia. Yang kita tahu bahwa statusnya sekarang kritis atau critically endangered ini harus menjadi perhatian serius kita bersama bahwa satwa orangutan ini bukan hanya kekayaan sumberdaya alam tetapi mereka adalah indikator dari kesehatan ekosistem hutan," kata Rohmat sebagaimana dikutip dari laman instagram Kementerian Kehutanan (@kemenhut) Sabtu, 18 Juli 2026.

Sementara itu Peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Dr Dede Aulia Rahman menegaskan bahwa laju deforestasi menjadi faktor pemicu utama. Selain keterancaman habitat, penurunan populasi juga dipicu oleh tingginya frekuensi konflik antara manusia dan orangutan, perburuan liar, serta maraknya perdagangan ilegal.

“Karena itu, menurut saya, tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat. Kehilangan habitat dan fragmentasi mendorong orang utan memasuki kebun dan permukiman, kemudian meningkatkan konflik, penangkapan, dan pembunuhan,” jelasnya sebagaimana dikutip dari laman IPB University Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia mengingatkan, kehilangan habitat, fragmentasi hutan, dan kematian akibat aktivitas manusia dapat meningkatkan risiko kepunahan lokal, terutama pada metapopulasi kecil dan orangutan Tapanuli. Karena itu, konservasi perlu diperkuat melalui perlindungan habitat, pemulihan koridor ekologis, pencegahan kematian orangutan, serta kolaborasi berbagai pihak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....