Jejak Kue Kastengel dari Eropa ke Meja Lebaran

  • 05 Feb 2026 17:00 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Kue kastengel sudah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi hari raya di Indonesia. Setiap Lebaran tiba, aroma keju panggang dari toples-toples kaca seolah menjadi penanda bahwa momen kebersamaan keluarga telah dimulai.

Meski kini dianggap sebagai kue khas Nusantara, kastengel sejatinya memiliki akar sejarah yang panjang dan lintas budaya. Nama kastengel berasal dari bahasa Belanda, yaitu kaas yang berarti keju dan stengel yang berarti batang.

Sesuai namanya, kue ini berbentuk memanjang seperti stik dan kaya rasa keju. Kastengel pertama kali diperkenalkan ke Indonesia pada masa kolonial Belanda, bersamaan dengan masuknya berbagai jenis kue dan teknik memanggang ala Eropa.

Pada awalnya, kastengel hanya dikenal di kalangan elite kolonial dan bangsawan pribumi. Bahan-bahannya seperti keju edam atau gouda, mentega, dan tepung terigu merupakan komoditas mahal pada masa itu.

Kue ini biasanya disajikan dalam acara resmi, jamuan tamu penting, atau perayaan tertentu di lingkungan pemerintahan Hindia Belanda. Seiring waktu, resep kastengel mulai diadaptasi oleh masyarakat lokal.

Keju impor diganti atau dipadukan dengan keju lokal, takaran mentega disesuaikan, dan teknik pembuatannya disederhanakan. Dari sinilah kastengel perlahan menyebar ke dapur-dapur rumah tangga dan menjadi bagian dari tradisi kuliner Indonesia.

Menariknya, kastengel kemudian menemukan “rumah baru” dalam perayaan Lebaran. Meski bukan kue asli Indonesia dan tidak berakar dari tradisi Islam, kastengel justru menjadi simbol keterbukaan budaya.

Ia hadir berdampingan dengan kue tradisional seperti nastar, putri salju, dan kue kacang, tanpa kehilangan identitasnya. Hingga kini, kastengel terus berevolusi mengikuti selera zaman.

Muncul berbagai varian modern seperti kastengel pedas, kastengel wijen, hingga kastengel premium dengan keju impor berkualitas tinggi. Namun, satu hal tetap sama: kastengel selalu identik dengan kebersamaan, nostalgia, dan kehangatan keluarga.

Dari dapur kolonial hingga meja tamu saat Lebaran, perjalanan kue kastengel di Indonesia menjadi bukti bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa. Ia adalah cerita tentang perjumpaan budaya, adaptasi, dan warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....